BAB 29

1217 Kata

“Bisa kita bicara sebentar? Aku memerlukan pendapatmu sebagai seorang wanita ... dan juga seorang Ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku, menciptakan keheningan mendadak di ruang makan yang hangat ini. Aku bisa melihat keterkejutan yang nyata di mata Nandita. Ia mengerjap beberapa kali, menatapku seolah baru saja mendengar sebuah pernyataan paling absurd abad ini. Mungkin baginya, kalimatku barusan terdengar seperti gombalan tipis yang menggelikan—mengingat statusnya yang masih lajang dan belum pernah memiliki anak. Namun, melihat ekspresinya yang kebingungan itu justru membuat senyum tipis tersungging di bibirku. Sebuah senyuman yang dulu jarang sekali muncul kecuali untuk keperluan formalitas pekerjaan. Sejak Nandita hadir, senyum itu seolah menemukan jalannya kembali untu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN