BAB 1
Pagi itu, udara di dalam kantor kecamatan terasa begitu menyesakkan. Meskipun kipas angin di sudut ruangan berputar dengan kecepatan maksimal, hawa pengap seolah tetap enggan beranjak dari meja kerjaku.
Aku menyandarkan punggung pada sandaran kursi yang keras, sementara jempolku seolah memiliki nyawa sendiri, terus-menerus menyapu layar ponsel yang mulai terasa hangat di telapak tangan. Cahaya dari benda pipih itu memantul di mataku yang mulai perih, menampilkan deretan pesan panjang yang kukirim sejak dua minggu lalu. Semuanya membeku pada satu tanda yang sama, satu ceklis abu-abu.
“Kok tumben banget ya si Huda nggak ada kabar?” gumamku sangat lirih, hampir seperti bisikan untuk diriku sendiri.
Suaraku tenggelam di antara bising langkah kaki warga yang mengurus administrasi dan suara ketukan jari Mbak Citra di meja sebelah yang sedang sibuk menginput data kependudukan. Aku menghela napas panjang, membiarkan layar ponselku perlahan meredup lalu menghitam.
Aku sudah hafal di luar kepala setiap kalimat peringatan yang Huda ucapkan sebelum dia berangkat ke pos penugasan di pedalaman Papua. Dia sudah mewanti-wanti bahwa tugas di sana tidak akan memberinya kemewahan untuk berkabar setiap saat. Sinyal yang sering hilang ditelan hutan, kondisi lapangan yang tidak menentu, hingga latihan fisik yang menguras energi selalu menjadi alasan yang kuterima dengan lapang d**a selama ini.
Namun, biasanya tidak pernah selama ini. Paling lambat dua minggu sekali, Huda pasti akan mencuri waktu, entah itu tengah malam atau dini hari, hanya untuk sekadar mengirim pesan singkat. Biasanya dia hanya menulis bahwa dia sehat dan memintaku jangan lupa makan. Tapi sekarang, sudah memasuki minggu ketiga, dan ponselnya seperti mati ditelan bumi.
Sebagai perempuan yang menjalani hubungan jarak jauh, ketiadaan kabar adalah bentuk teror mental yang paling nyata. Pikiranku mulai liar membayangkan hal-hal buruk yang sering k****a di portal berita tentang konflik di daerah penugasan tentara. Memikirkannya saja sudah membuat ulu hatiku nyeri luar biasa.
Ingatanku mundur ke tujuh tahun yang lalu. Hubungan kami sudah terjalin sejak kelas satu SMA. Aku ada di sampingnya saat dia dua kali gagal menembus seleksi Akademi Militer dan Bintara. Aku melihat sendiri bagaimana wajahnya lesu sebelum akhirnya dia mengalah masuk jalur Tamtama.
Meski ada gurat kecewa karena tak sesuai target awal menjadi perwira, aku tetap berdiri di sana, menyemangatitnya hingga dia kembali tegak dengan seragam lorengnya. Kami punya rencana sederhana, dia menjadi tentara, dan aku menjadi PNS seperti keinginan orang tuaku. Saling dukung dan percaya adalah pondasi yang membuatku bertahan meski jarak memisahkan kami ribuan kilometer.
“Lihatin chat siapa sih, Dit? Dari tadi Mbak perhatikan kamu gelisah terus,” tegur Mbak Citra, membuyarkan lamunanku. Dia melongok dari balik sekat meja dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang khas.
Aku menoleh, mencoba mengatur raut wajahku agar tidak terlihat terlalu menyedihkan. “Huda, Mbak. Dia nggak ada kabar sama sekali. Aku khawatir banget, mana pesanku cuma ceklis satu terus dari kemarin-kemarin.”
Mbak Citra menggeser kursinya mendekat. Sebagai wanita yang sudah berkeluarga, dia biasanya menganggap curhatan soal pacaran sebagai hal sepele. Namun, kali ini ekspresinya tampak berbeda. “Huda itu pacarmu yang tentara, kan? Yang dulu satu sekolah sama Gilang, adik sepupuku?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk pelan. Aku mengenal Gilang karena dia adalah teman dekat Huda saat SMA. Bedanya, Huda memilih jalur militer, sementara Gilang memilih sekolah keperawatan—pilihan yang sempat membuatku heran karena Gilang adalah tipe pria yang sangat tidak sabaran.
“Aku malah lupa kalau Mbak itu sepupunya Gilang,” sahutku, mencoba mengalihkan pembicaraan. “Dia apa kabar, Mbak? Dinas di mana sekarang?”
Mbak Citra mengibaskan tangan, seolah kabar Gilang tidak penting saat ini. “Gilang baik, nggak usah bahas dia dulu. Bahas pacarmu itu lebih mendesak. Sudah berapa lama tepatnya kamu nggak bisa hubungi dia?”
“Nyaris tiga minggu, Mbak. Biasanya nggak pernah selama ini. Aku takut dia kenapa-kenapa di sana, apalagi berita di televisi lagi seram-seramnya soal Papua,” jawabku jujur. Ada getaran di suaraku yang tidak bisa kusembunyikan.
Mbak Citra terdiam sejenak, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Dit, Mbak mau tanya sesuatu tapi kamu jangan marah ya. Kamu nggak curiga kalau sebenarnya kamu itu... diblokir?”
Pertanyaan itu menghantamku telak. Aku tertegun, mataku mengerjap tidak percaya. “Diblokir? Ya nggak mungkinlah, Mbak. Kok bisa-bisanya Mbak ngomong gitu? Kita nggak ada masalah apa-apa.”
Aku merasakan panas menjalar di dadaku. Kesal. “Jangan bikin aku berpikir negatif, Mbak. Hubungan kami itu sudah tujuh tahun. Terakhir teleponan juga baik-baik saja, nggak ada berantem sama sekali. Kalau ada yang ngomong Mas Ashar macam-macam di tengah laut sana padahal Mbak lagi cemas, Mbak Citra pasti juga bakal marah, kan?”
Aku memalingkan muka, malas melanjutkan bicara. Aku merasa dikhianati oleh ucapan senior yang seharusnya menenangkanku. Namun, Mbak Citra tidak berhenti di situ. Dia justru menarik kursinya lebih dekat hingga lutut kami hampir bersentuhan. Dia merogoh saku seragamnya, mengeluarkan iPhone miliknya, lalu meletakkannya tepat di hadapanku.
“Dit, Mbak bukan mau jahat. Tapi daripada kamu gelisah nggak karuan, lebih baik kita buktikan sekarang. Masukkan nomor Huda ke w******p-ku. Kita tes sekarang juga. Kalau di sini juga ceklis satu, berarti Mbak memang salah dan kamu boleh maki-maki Mbak sepuasnya,” tantang Mbak Citra.
Aku mendengus kasar. Tanganku gemetar saat menyambar ponsel itu. Aku ingin membuktikan bahwa kecurigaan Mbak Citra itu salah besar. Dengan jari yang masih gemetar karena sisa amarah, aku mengetikkan nomor Huda yang sudah hafal di luar kepala. Saat kolom percakapan terbuka, aku sempat tersenyum mengejek. “Tuh, lihat sendiri, Mbak. Foto profilnya kosong, abu-abu. Sama kayak di HP-ku. Artinya memang dia lagi di daerah susah sinyal,” ucapku penuh kemenangan.
Mbak Citra tidak goyah. Dia hanya tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat perasaanku mendadak tidak enak. “Coba kirim pesan dulu, Dit. Ketik apa saja. Foto profil kosong itu bisa diatur di privasi kalau nomor kita nggak disimpan.”
Rasa panas di wajahku semakin menjadi. Dengan sisa keberanian yang aku punya, aku mengetik kata 'Halo' lalu menekan tombol kirim dengan tenaga berlebih, seolah ingin meluapkan emosiku pada layar itu.
Detik berikutnya, duniaku seolah berhenti berputar. Berbeda dengan deretan pesan di ponselku yang membeku dalam status ceklis satu, pesan di ponsel Mbak Citra berubah dalam sekejap mata. Satu ceklis abu-abu itu segera berganti menjadi dua ceklis abu-abu.
Pesannya terkirim. Pesannya sampai ke perangkat Huda. Itu artinya, ponsel Huda aktif. Ada sinyal di sana. Dan yang paling menyakitkan, pesan itu masuk ke nomor orang lain, tapi tidak ke nomorku.
Aku terperangah. Napas seolah tersangkut di tenggorokan. Aku buru-buru meraih ponselku sendiri, membuka percakapanku dengan Huda, berharap ada keajaiban bahwa pesan-pesanku juga ikut berubah.
Namun, kenyataan pahit tetap terpampang di sana, pesanku tetap ceklis satu. Lututku terasa lemas seketika. Aku terhenyak kembali ke kursi, menatap kosong ke arah dua ponsel yang menunjukkan kenyataan yang bertolak belakang. Gemuruh di dadaku yang tadinya berisi amarah, kini berubah menjadi gelombang kekecewaan yang menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping.
Tujuh tahun dukungan, kesabaran menanti setiap tahap seleksinya yang gagal, dan semua doa yang kukirimkan setiap malam, dibalas dengan satu tindakan pengecut yang tak pernah kubayangkan.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, panas dan menyakitkan. Aku sadar, kekhawatiranku selama ini salah alamat. Huda tidak sedang dalam bahaya maut, dia hanya sedang dengan sengaja melenyapkan keberadaanku dari hidupnya. Benar-benar telah dicampakkan tanpa sepatah kata pun penjelasan. Rasa sesak itu kian menghimpit, menyisakan tanya yang tak mungkin lagi terjawab oleh pria yang dulu kusebut sebagai masa depan.
Aku, benar-benar diblokir Huda.