Lututku terasa lemas, seolah seluruh tulang yang menyanggah tubuhku baru saja dipreteli paksa. Jantungku bergetar hebat, bukan karena debar jatuh cinta, melainkan karena gemuruh kecewa yang begitu menyesakkan hingga aku ingin berteriak dan menangis keras di tengah riuh rendah kantor kecamatan ini.
Kenyataan itu terpampang nyata di depan mataku. Aku, benar-benar diblokir oleh Huda.
“Nandita, heiii! Kamu kenapa? Jangan bikin Mbak takut!”
Sentakan kuat di bahuku dari Mbak Citra membuatku tersentak. Aku tergagap, mencoba menarik kembali kesadaranku yang sempat membeku akibat syok. Mataku terasa panas dan perih, ada cairan bening yang mendesak ingin keluar, namun sekuat tenaga kutahan agar tidak tumpah di depan meja kerja.
Aku menunduk, kembali melihat layar ponselku dan ponsel Mbak Citra bergantian. Dua tampilan aplikasi perpesanan dengan nomor yang sama, namun memberikan tanggapan yang jauh berbeda. Entah sejak detik kapan aku mulai membenci simbol ceklis satu abu-abu itu. Di layar ponselku, tanda itu seakan menjelma menjadi sosok yang mengejekku habis-habisan. Dia menertawakan ketololanku yang sudah berminggu-minggu menunggu kabar dengan penuh kecemasan, padahal pria yang kutunggu itu sama sekali sudah tidak menginginkanku lagi.
Ingin rasanya aku menertawakan diriku sendiri saat ini. Tadi, aku begitu keras kepala membela Huda dan menentang kecurigaan Mbak Citra. Sekarang, rasa malu itu membakar wajahku. Mbak Citra benar, dan aku hanyalah perempuan bodoh yang terlalu memelihara pikiran positif hingga berakhir dibohongi mentah-mentah.
Ya Tuhan, sebenarnya apa kesalahanku? Aku memutar otak, mencari-cari momen di mana aku mungkin telah menyakiti hati Huda, namun nihil. Kami tidak bertengkar. Komunikasi terakhir kami baik-baik saja. Lantas, kenapa dia harus bertindak sejahat ini? Kenapa dia harus memutus akses tanpa sepatah kata pun?
Sepercik harapan kecil sempat muncul di benakku, mungkin saja ponsel Huda hilang atau rusak, lalu dia berganti nomor. Namun, logika itu patah seketika saat melihat ponsel Mbak Citra. Dengan nomor asing milik Mbak Citra, Huda bisa dihubungi. Hanya nomorku yang dia depak.
“Aku beneran diblokir, Mbak,” ucapku lesu. Suaraku terdengar serak, menahan tangis yang terasa mengganjal di tenggorokan. Tanganku bergetar hebat saat menyerahkan ponsel itu kembali kepada Mbak Citra.
Mbak Citra yang tadinya tampak khawatir, kini berubah raut wajahnya menjadi senyum masam yang penuh simpati. Telapak tangan ibu dua anak itu terulur, mengusap bahuku dengan lembut. Dia menyodorkan selembar tisu ke arahku, seolah tahu bahwa pertahananku akan runtuh sebentar lagi.
“Kan sudah Mbak duga. Bukannya Mbak mau memperkeruh keadaan, atau karena Mbak benci sama pacarmu itu, Dit. Tapi Mbak punya pengalaman yang nggak enak soal laki-laki berseragam kayak pacarmu itu,” ujar Mbak Citra pelan.
Aku menyeka sudut mataku yang mulai basah. “Mbak juga pernah diginiin?”
Mbak Citra menarik napas panjang, sebuah hela yang terdengar sangat berat, menunjukkan bahwa kenangan yang akan dia bagikan bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk diingat kembali.
“Sebelum sama Mas Ashar, Mbak pernah pacaran sama tentara. Dia keponakan teman orang tuaku. Sama kayak kamu, Dit. Sebelum dia jadi tentara, Mbak yang nemenin dia urus ini-itu. Mbak yang kasih dukungan waktu dia gagal berkali-kali. Eh, begitu dia sudah jadi tentara dan siap dinas, dia ganti nomor. Dia mendadak nggak bisa dihubungi,” Mbak Citra bercerita dengan nada datar, namun aku bisa merasakan luka lama di dalamnya.
“Zaman dulu, waktu masih pakai f*******: sama Yahoo Messenger, Mbak juga diblokir. Pokoknya Mbak ditinggal begitu saja kayak sampah. Sampai satu waktu, Mbak dengar kabar kalau dia sudah menikah. Alasan pria itu ngilang sangat klise, Dit. Katanya Mbak nggak pantas buat dia yang sudah jadi tentara. Miris, kan?”
Aku menelan ludah dengan susah payah. Lidahku terasa kelu. Aku tidak tahu harus menanggapi apa, karena saat ini aku seperti sedang melihat cermin masa depanku dalam cerita Mbak Citra. Rasa sakit dan kecewa yang dia ceritakan seolah merambat masuk ke dalam pori-poriku. Aku bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Mbak Citra saat itu, dikhianati oleh orang yang dia bantu merangkak dari bawah.
“Makanya Mbak khawatir kalau hal yang sama terjadi ke kamu. Maaf ya, Mbak nggak bermaksud apa-apa,” tambahnya lagi dengan tulus.
Aku mengangguk pelan. Aku pasrah jika memang Huda memutuskan untuk menjadi pengecut yang sama dengan mantan pacar Mbak Citra. Meskipun hati kecilku memberontak, tidak terima karena selama ini aku sudah menjadi pendukung terbaiknya. Aku ingin marah, ingin berteriak di depan wajahnya, tapi Huda berada di ujung Indonesia. Jarak ribuan kilometer melindunginya dari amarahku. Andaikan pria itu ada di hadapanku sekarang, aku tidak akan peduli lagi dengan hubungan baikku dengan orang tuanya, aku akan mencacinya habis-habisan.
Jika dia memang berpikir aku tidak lagi pantas untuknya, setidaknya berkatalah baik-baik. Putuskan aku secara jantan, bukannya bermain blokir seperti seorang pecundang.
Di tengah kegalauan yang menghimpit, ponsel Mbak Citra yang tergeletak di meja tiba-tiba menyala. Ada notifikasi masuk. Aku yang tadinya tenggelam dalam emosi, awalnya tidak peduli. Namun, raut wajah Mbak Citra berubah drastis. Wajahnya yang semula masam kini terlihat semakin keruh, dia menggerutu kecil sambil mencoba menyembunyikan layar ponselnya.
Sesuatu dalam diriku menolak untuk diam. Rasa penasaran yang menyakitkan mulai menguasai. “Siapa, Mbak?” tanyaku, mengabaikan sopan santun.
Mbak Citra tersentak. Dia buru-buru membalikkan ponselnya, namun gerakannya yang kikuk justru memperjelas prasangkaku. Aku tahu, apa pun yang akan kulihat nanti hanya akan menambah luka baru, tapi entah kenapa, sisi t***l dalam diriku justru ingin mencari penyakit.
“Huda balas ya, Mbak?” tanyaku lagi.
Mbak Citra bungkam. Dan diamnya dia sudah lebih dari cukup sebagai jawaban. Kenyataan pahit ini terus menghantamku bertubi-tubi sejak aku tahu aku diblokir.
“Siniin, Mbak. Aku mau lihat dia balas apa. Nggak usah khawatir aku bakal nangis di sini. Aku janji nggak bakal bikin keributan. Tangisnya bakal aku bawa pulang ke rumah,” pintaku dengan nada memohon yang getir.
“Janji jangan nangis atau rewel ya, Dit? Mbak nggak mau kita dimarahin Pak Baskara gara-gara bikin gaduh di jam kantor,” Mbak Citra akhirnya menyerah.
Aku mengangguk pasti, meski dadaku terasa seperti sedang dihantam palu godam. Aku menguatkan hati saat menatap layar ponsel itu. Benar dugaanku, simbol ceklis dua abu-abu itu kini telah berubah. Dan yang lebih menyakitkan, foto profil yang sebelumnya kosong kini telah berganti.
Di sana, terpampang foto Huda yang gagah mengenakan seragam loreng. Pakaian dinas kebanggaan yang dulu susah payah dia perjuangkan. Aku ingat betapa aku memujinya saat dia pertama kali mengirimkan foto dengan seragam itu. Namun sekarang, seragam keren itu justru membuatku mual.
Aku membaca baris pesan yang masuk dalam layer ponsel
Hallo Abang?! Pesan dari ponsel Mbak Citra.
Hallo Dek?! Siapa ini ya kok tiba-tiba hubungi Abang. Balasan Huda
Perutku melilit. Rasa mual, mulas, dan ingin muntah datang bersamaan. Aku benar-benar merasa ilfeel membaca balasan Huda yang begitu menjijikkan. Meskipun Mbak Citra memasang foto profil berhijab dan bermasker, namun sorot mata Mbak Citra memang indah, dan Huda—pacarku selama tujuh tahun—seketika terpincut dengan sapaan dari nomor asing tanpa tahu dia sedang dikerjai.
Menekan rasa kesal yang membuncah, aku mengambil alih ponsel itu. Jemariku mengetik balasan, ingin tahu sejauh mana kegenitan pria ini akan melangkah.
Ayumi, Bang. Tahu darimana rahasia dong, Bang. Intinya Adek mau kenalan sama Abang.
Aku ingin memuntahkan empedu saat mengetik kalimat itu. Pahit sekali. Kata-kata yang kutuliskan sama sekali bukan gayaku, sangat menye-menye dan menggelikan. Namun, rasa geliku pada diri sendiri tidak sebanding dengan rasa muakku pada sikap Huda.
Detik berikutnya, balasan kembali muncul:
Duuuh, kuliah apa udah kerja, Dek? Nggak asyik banget deh main rahasia-rahasiaan.
Duniaku benar-benar runtuh. Tujuh tahun kebersamaan kami, dan dia hanya butuh waktu beberapa detik untuk menggoda perempuan lain yang baru menyapanya lewat pesan singkat. Huda bukan hanya seorang pengecut, dia adalah seorang pengkhianat yang murah.