BAB 31

1717 Kata

Pagi itu, suasana di meja makan kayu kami terasa jauh lebih tenang dari biasanya, setidaknya sampai aku membuka mulut. Aku menyesap teh hangatku perlahan, memandangi uap yang mengepul tipis di udara. Di hadapanku, Bapak tengah asyik dengan ritual paginya, mengelus Molly, kucing kampung berbulu cokelat putih yang sering kali mendapatkan perlakuan lebih istimewa dibandingkan aku, anak kandungnya sendiri. “Pak, Bapak sama Ibu nanti sore ada waktu nggak?” tanyaku, mencoba terdengar sesantai mungkin meski ada sedikit debaran aneh di d**a. Bapak seketika menoleh. Gerakan tangannya yang sedang menggaruk leher Molly terhenti. Matanya menyipit, menatapku dengan sorot menyelidik seolah aku baru saja menanyakan sesuatu yang sangat tidak lazim—seperti menanyakan letak kunci brankas rahasia negara.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN