bc

Hasrat Liar Suami Sahabatku

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
confident
heir/heiress
drama
bxg
bold
city
affair
friends with benefits
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Nemi selalu tahu batasan. Sebagai sahabat dekat Putri Wardhana, ia tahu persis siapa yang boleh dan tidak boleh disentuh. Tapi batasan itu runtuh begitu saja saat Aris — suami Putri, pengusaha sukses yang selama ini hanya ia kenal sebagai "kakak ipar" dalam pertemanan — menatapnya dengan cara yang berbeda.Nemi punya suami sendiri. Hidup yang tampak baik-baik saja dari luar. Tapi ada sesuatu dari Aris — kuasa, kepastian, cara ia mengendalikan segalanya — yang membuat Nemi lupa pada semua yang seharusnya ia jaga.Yang dimulai sebagai kebetulan kecil berubah jadi pertemuan rahasia yang terus berulang. Semakin sering mereka bersama, semakin sulit Nemi berhenti — meski setiap kali pulang ke rumah, ia harus kembali jadi istri yang baik, dan setiap kali bertemu Putri, ia harus kembali jadi sahabat yang setia.Satu kebohongan melahirkan kebohongan lain. Nemi tahu ia sedang bermain api. Tapi saat cinta terlarang terasa lebih hidup dari pernikahannya sendiri, pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan berhenti — tapi bisakah ia berhenti, sebelum semua yang ia bangun runtuh.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1: Sahabat yang Sempurna
Pukul tujuh pagi, dan Nemi sudah berdiri di depan cermin selama sepuluh menit tanpa benar-benar melihat pantulannya sendiri. Ia sedang memikirkan rapat jam sembilan. Bukan rapatnya yang membuatnya gugup ia sudah tiga tahun jadi sekretaris pribadi Aris Pratama, cukup lama untuk hafal setiap kebiasaan bosnya, dari cara ia selalu minta kopi tanpa gula sampai caranya mengetuk meja tiga kali sebelum memulai presentasi penting. Yang membuatnya gugup adalah undangan makan malam yang masuk ke ponselnya semalam. Putri: Nem, malam ini dinner di rumah ya? Aris lagi pengen masak katanya. Kangen ngobrol sama kamu juga, udah lama banget kita nggak ngumpul bertiga. Bertiga. Nemi menatap kata itu lama sebelum akhirnya membalas dengan emoji tersenyum dan "Otw jam 7 ya!" Ia menutup ponsel, menghela napas, lalu melanjutkan bersiap. Sarapan pagi itu seperti biasa: Reza, suaminya, sudah duduk di meja makan dengan laptop terbuka, setengah fokus pada sarapan dan setengah lagi pada email kerja yang tak pernah berhenti masuk. "Aku pulang malam ini, ada dinner sama Putri," kata Nemi sambil menuang kopi. "Oh." Reza mengangguk tanpa mengangkat kepala. "Ya udah, aku juga ada meeting sampai malam kayaknya." Begitu saja. Tidak ada pertanyaan lanjutan, tidak ada "hati-hati", tidak ada kontak mata lebih dari dua detik. Nemi sudah terbiasa dengan pola ini sembilan tahun pernikahan yang berjalan seperti mesin yang sudah dihafal luar kepala, tanpa perlu banyak kata untuk tetap berjalan. Nyaman, katanya pada diri sendiri. Nyaman, bukan hambar. Ia mencium pipi Reza sekilas, mengambil tasnya, dan berangkat ke kantor. Kantor Aris Pratama menempati tiga lantai teratas sebuah gedung di pusat kota kerajaan bisnis yang ia bangun sejak usia dua puluh lima, dan sekarang di usia tiga puluh delapan sudah jadi salah satu nama paling disegani di industri properti. Nemi ingat betul hari pertama ia diwawancara untuk posisi sekretaris pribadi, lima tahun lalu, saat Aris baru saja menikahi Putri sahabat kuliah Nemi sendiri. "Kamu yakin mau kerja sama suami sahabatmu sendiri?" tanya HRD waktu itu, setengah bercanda. "Kenapa enggak? Aku kenal dia orangnya kayak apa," jawab Nemi waktu itu, penuh percaya diri. Lima tahun kemudian, jawaban itu terasa seperti lelucon yang mulai kehilangan kelucuannya. "Pagi, Nem." Suara Aris menyambutnya begitu ia membuka pintu ruang kerja lantai dua puluh tiga. Aris berdiri di dekat jendela, jas masih tergantung rapi di kursi, kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku kebiasaan paginya sebelum rapat besar. "Pagi, Pak." Nemi meletakkan tasnya di meja kerja yang bersebelahan dengan ruangan Aris. "Bahan presentasi jam sembilan sudah saya siapkan semalam, tinggal Bapak review sebentar." Aris menoleh, tersenyum tipis senyum yang menurut orang lain terlihat profesional dan berwibawa, tapi Nemi tahu ada nuansa lain di baliknya, sesuatu yang hanya muncul saat mereka berdua saja di ruangan itu. "Kamu ini," katanya, "kadang aku lupa harus bilang terima kasih karena kamu udah kayak bagian dari otakku sendiri." Nemi tertawa kecil, berusaha terdengar biasa saja. "Itu tugas saya, Pak." Tapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari yang seharusnya. Rapat jam sembilan berjalan lancar seperti biasa. Nemi duduk di sisi ruangan, mencatat setiap poin penting sambil sesekali memperhatikan cara Aris memimpin diskusi tegas, cepat mengambil keputusan, tapi tetap mendengarkan pendapat orang lain sebelum akhirnya bicara. Ada karisma yang sulit dijelaskan dalam caranya berbicara, sesuatu yang membuat seisi ruangan diam dan memperhatikan setiap kali ia angkat suara. Nemi pernah bertanya-tanya, dulu, apakah Putri jatuh cinta pada Aris karena hal yang sama. Ia menepis pikiran itu secepat munculnya. Jam makan siang, Nemi duduk sendiri di kantin kantor, menyantap nasi goreng seadanya sambil membalas beberapa pesan kerja. Ponselnya bergetar pesan dari Putri lagi. Putri: Eh Nem, tadi Aris bilang kamu kerja keras banget akhir-akhir ini. Jangan lupa istirahat ya. Btw nanti malam masak apa aja boleh request! Nemi tersenyum membaca pesan itu. Putri selalu seperti ini perhatian, hangat, tulus tanpa perlu berusaha. Mereka berteman sejak semester pertama kuliah, berbagi kamar kos yang sama selama dua tahun, saling menjadi saksi di pernikahan masing-masing. Kalau ada satu orang di dunia ini yang paling tidak pantas dikhianati, itu Putri. Nemi: Terserah kamu masak apa juga enak kok! Makasih ya udah diingetin :) Ia mengirim pesan itu, lalu menatap layar ponselnya lama, sebelum akhirnya memasukkannya kembali ke dalam tas. Sore harinya, saat sebagian besar karyawan sudah mulai bersiap pulang, Aris memanggil Nemi ke ruangannya untuk terakhir kalinya hari itu. "Nem, tolong siapin dokumen buat pertemuan investor minggu depan. Kayaknya kita harus ke Singapura dua hari," katanya sambil menyerahkan setumpuk kertas. "Siap, Pak. Saya atur jadwal penerbangannya besok pagi." Aris mengangguk, lalu diam sebentar, matanya menatap Nemi dengan cara yang membuat suasana ruangan terasa berbeda lebih hening dari biasanya. "Kamu udah lama banget kerja sama aku ya," katanya pelan. "Kadang aku mikir, untung banget punya sekretaris yang ngerti aku luar dalam kayak kamu." Nemi tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa berat. "Bapak ini kalau muji suka aneh-aneh." "Aku serius," balas Aris, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. Untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu lebih lama dari yang seharusnya lebih lama dari yang pantas antara bos dan sekretaris, lebih lama dari yang pantas antara suami sahabat dan sahabat istrinya sendiri. Nemi adalah orang pertama yang memalingkan wajah. "Saya siapkan dulu dokumennya, Pak," katanya cepat, lalu keluar dari ruangan itu dengan jantung yang berdebar terlalu kencang untuk alasan yang tidak ingin ia akui. Malam itu, saat Nemi tiba di rumah Aris dan Putri, semuanya terasa normal dari luar. Putri menyambutnya dengan pelukan hangat seperti biasa, aroma masakan memenuhi seluruh rumah, dan Aris duduk di ruang makan dengan kemeja santai, jauh dari sosok CEO yang tegas di kantor. "Nem! Akhirnya!" Putri menariknya duduk. "Cobain deh masakan baru aku, resep dari YouTube katanya enak banget." Nemi duduk di antara mereka berdua, tersenyum, menerima piring yang disodorkan Putri, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Aris yang sedang tertawa mendengar cerita istrinya. Dari luar, mereka terlihat seperti tiga sahabat yang menikmati malam biasa. Tapi di bawah meja, ketika tangan Nemi meraih gelas air, ia merasakan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi kaki Aris, yang duduk tepat di seberangnya, menyentuh kakinya sekilas. Sengaja atau tidak, Nemi tidak yakin. Ia menarik kakinya perlahan, jantungnya berdebar terlalu keras untuk malam yang seharusnya biasa saja. Dan di sanalah, di meja makan yang penuh tawa dan kehangatan seorang sahabat, benih pertama dari sesuatu yang jauh lebih gelap mulai tumbuh diam-diam, tanpa suara, tanpa seorang pun yang menyadarinya. Kecuali Nemi. Dan mungkin, Aris juga.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
808.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
376.6K
bc

Not just, the Beta

read
358.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook