“Sekarang?” balas Gianna, suaranya masih berbisik, berharap ada penundaan. “Mau menunggu besok? Atau kamu mau terus terjebak di sana tanpa informasi yang bisa membebaskanmu dan ayahmu?” tegas Jason, suaranya menusuk seperti silet lewat perangkat itu. Ancaman yang terselubung itu jelas. Dengan hati yang berat dan penuh ketidakpastian, Gianna pun mulai membenahi tumpukan berkas yang berantakan di hadapannya. Tangan-tangannya gemetar sedikit saat membuka map-map usang yang penuh debu. Dia tidak punya sistem yang jelas, jadi dia mencoba memilah berdasarkan satu-satunya petunjuk yang terliha, tahun dan jenis dokumen. Dia memisahkan laporan keuangan yang tampak kuno, proposal proyek yang sudah menguning, surat-menyurat formal, dan nota internal yang tidak jelas tujuannya. Setiap lembar dia

