BAB 6 - Nekat!

1213 Kata
Seorang wanita berbalut blazer biru tua, dengan rambut gaya sleek low bun, wajahnya begitu cantik, penampilannya begitu elegan, ketara sekali kalau dia adalah seorang wanita karir. Setelah memanggil Sabda, ia berjalan begitu dengan elegannya, sambil tersenyum menawan. Tanisha yakin tidak ada laki-laki yang akan menolak wanita secantik dia. Tanisha saja sampai insecure melihatnya. Apalah dia yang hanya mahasiswi ingusan. Sabda menoleh ke sumber suara, senyum lebarnya pun terbit dari wajah tampannya. Tanisha yang melihat senyumnya itu pun, membuat sisi liar Tanisha bangkit, ingin rasanya ia menerjang Sabda ke atas ring ranjang untuk adu mekanik. "Hai..." Suara merdunya benar-benar menusuk ke telinga Tanisha. Bisa-bisanya ada wanita dengan suara semerdu ini. Suaranya saja terdengar nyaring hingga merusak gendang telinga. Tapi tidak dengan wanita dewasa yang ada di depannya ini. "Hai, Raisa..." balas Sabda sambil menggeserkan tubuhnya agar wanita yang bernama Raisa, bisa duduk di sebelahnya. Raisa langsung saja duduk di sebelah Sabda, wajahnya tampak sumringah, seolah menemukan jackpot. "Kamu sama siapa ke sini?" tanya Sabda lebih dulu. "Aku sendiri, kamu sama?" Tatapan Raisa langsung berpindah Tanisha, dengan jari telunjuk mengarah padanya. "Oh kenalkan dia Icha, anaknya sahabatku. Tadi gak sengaja ketemu di halte, ya udah aku bawa aja sekalian jalan pulang. Terus dia laper belum makan, aku ajak ke sini," jelas Sabda panjang kali lebar. Mendengar penjelasan Sabda benar-benar membuat Tanisha tidak punya muka. Dia seperti anak jalanan yang di ketemukan lalu kelaparan, dan di beri makan oleh sang majikan, sad sekali rasanya. Raisa langsung menoleh ke arah Tanisha, ia mengulurkan tangannya pada Tanisha. "Hai Icha, aku Raisa," sapanya benar-benar ramah. Tanisha sedikit melongo saat di sapa oleh wanita yang nyaris sempurna itu, seolah tidak ada celah kegagalan sedikitpun, sepertinya Tuhan moodnya sedang senang sekali saat menciptakannya. Di tambah namanya juga indah sekali, seperti penyanyi yang terkenal itu. "Cha..." ucap Sabda menyadarkan Tanisha dari lamunannya. Tanisha langsung mengerjapkan matanya, dan menatap tangan Raisa yang ada di depannya. "Eh, iya tante. Saya Icha!" jawabnya tak kalah ramah. "Kamu lucu banget sih, gemesin," puji Raisa sambil tersenyum lebar. Lucu? Gemes? Maksudnya lucu yang seperti apa ya? Otak Tanisha mendadak harus mencerna kata-katanya, apakah itu berupa pujian atau ejekan? "Lucu gimana tan?" tanyanya akhirnya. "Iya lucu wajahnya babyface, cantik..." Jelas Raisa membuat Tanisha tidak buruk sangka padanya. Wajah Tanisha kini jadi memerah, karena pujian dari Raisa. Walaupun sebenarnya dia tidak terlalu percaya dengan pujian wanita cantik yang ada di depannya ini. "Ah, tante bisa aja. Tapi apalah aku kalau di bandingkan dengan tante yang gak ada apa-apanya. Tante cantik, wanita karir, baik, pria mana yang tidak jatuh cinta," puji Tanisha balik. Raisa tertawa pelan mendengar pujian Tanisa padanya. "Kalau itu sih jangan di tanya, kamu orang kesekian yang bilang daya begitu," tawanya sudah mulai terlihat songongnya. Alisnya hampir bersatu, mendengar jawaban dari mulut Raisa. Ia pikir jawabannya akan begitu elegan sesuai penampilannya, dan rendah hati. Tapi tampaknya tidak, bau-bau kesombongan sudah tercium, yang awalnya mengagumi mungkin sekarang tidak. Tanisha menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Anjir pede banget. Bisa-bisanya om Sabda punya temen kaya dia," batin Tanisha, sambil membalas senyum kecut pada Raisa. "Oh iya Sab, gimana proyek yang akan kita garap bareng? Jadi kan?" tanya Raisa. Sabda mengngguk pelan, "Hmm jadi, semua lagi aku persiapkan dulu," jelas Sabda. "Ahh... Jadi gak sabar pengen cepet kerjasama bareng kamu!" ucapnya seolah dengan nada menggoda. Alis Tanisha ke atas melihat tingkah genitnya pada Sabda, ternyata tidak se-elegan saat dia berjalan. Tidak lama pesanan mereka datang, mata Tanisha berbinar saat melihat pesanannya sudah di depan mata. "Pesanannya sudah semua ya..." ucap si pelayan sambil mengambil nomor meja. "Iya sudah, terima kasih," balas Sabda. Raisa melihat pesanan Tanisha dan Sabda itu sama, hanya minumnya saja yang beda. "Kok pesenan kalian sama?" tanya Raisa. Tanisha dan Sabda saling tatap, mereka baru sadar kalau pesanan mereka sama. "Om Sabda ngikutin aku tan," jawab Tanisha polos. Memang benar, tidak mau ribet pilih menu, akhirnya Sabda pun memesan makanan yang sama. Raisa langsung menoleh ke arahnya, "Iya? Kamu suka pedes emang?" tanya Raisa lagi. "Lumayan suka, tadi aku males aja pilih menu, biasanya pesenan anak muda suka enak-enak. Jadi ya udah aku samain aja," jawab Sabda membenarkan ucapan Tanisha. Raisa menganggukan kepalanya pelan. "Kamu mau coba makanan aku gak? Enak loh ini aku suapin ya..." Sabda terlihat risih dengan sikap Raisa, cantik sih tapi gatal! Tanisha yang berada di depan mereka seolah menjadi obat nyamuk, sesekali memperhatikan mereka berdua, dongkol sekali rasanya, rasa pedas ayam Taliwang pun seolah kalah di lidahnya. "Gak usah Sa, aku cukup ini aja. Kamu makan aja makanan kamu sendiri," tolak Sabda. Tanisha jadi teringat saat dia menolak minuman bekas dirinya. Ternyata Sabda pun berlaku sama pada Raisa, seolah dia memang risih di perlakukan seperti itu. "Cobain dulu Sab, enak loh coba buka mulutnya..." paksa Raisa. Sabda menggelengkan kepalanya, ia benar-benar menolak, melihat adegan tolak menolak di depan matanya, membuat Tanisa sedikit geram. Ia jadi kurang menikmati makanannya, karena keributan yang di timbulkan ke dua manula di depannya. Apalagi Raisa, yang terus memaksa. Tanisha jadi teringat kejadian kemarin saat di rumah Sabda. Ia pun sama memaksa Sabda, dan itu ternyata sangat menjijikan. Pantas saja Sabda menolak, ternyata sikapnya kurang elegan. "Sab ayolah ini enak," desak Raisa. "Gak, Sa aku gak suka," tolak Sabda. "Coba dulu pasti kamu ketagihan!" Merasa di paksa akhirnya Sabda membuka mulutnya secara paksa. Raisa pun tersenyum lebar, "Enakan?" Kening Sabda mengernyit, ada sesuatu yang aneh dengan rasanya. Tiba-tiba tubuh Sabda merasa tidak enak, keluar seperti ruam di tangannya. "s**t, kamu pesen apa sih? Ini pasti ada campuran udangnya kan?" tanya Sabda dengan geram. Raisa sontak panik melihat tubuh Sabda yang tiba-tiba merah. "Emangnya kenapa?" tanya Raisa dengan raut wajah khawatir. Tanisha yang sudah tahu apa yang terjadi oada Sabda pun langsung menjawab ucapan Raisa. "Om Sabda alergi udang, makanya jangan maksa orang! Akhirnya kan kaya gini!" timpal Tanisha yang langsung bangkit dari tempat duduknya. "Om bawa obatnya? Ada di mobil kayanya!" Sabda sudah tidak kuat lagi dengan reaksi di tubuhnya. Tanisha dengan sigap membawa Sabda pergi dari sana. "Tante awas! Aku mau bawa om Sabda ke dokter!" titah Tanisha dengan tatapan tajam. Karena panik dan merasa bersalah, Raisa pun menyingkir dan membiarkan Tanisha membawa Sabda. Raisa berjalan mengikuti mereka menuju mobil Sabda. "Om di mana obatnya?" "Dasboard atau tas saya!" jawabnya dengan napas tersengal-sengal. Dengan gerakan cepat Tanisha mencari obat Sabda. Ternyata tidak ada di dua tempat itu. "Om gak ada, jangan-jangan om gak bawa!" ucapnya. Sabda hanya diam sambil mengatur napas. "s**t, om mana kuncil mobil om. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Keadaan om sudah gawat, harus segera di larikan ke rumah sakit!" ujar Tanisha yang mencari keberadaan kunci mobilnya. Tanpa meminta ijin Tanisha merongoh saku celananya cukup dalam. Hingga tidak sengaja dia menyentuh sesuatu, membuat Sabda langsung membuka matanya. "Icha bukan di situ! Di saku kemeja saya!" ucapnya lirih. Tanisha mengerjap, ia langsung mengambil kunci itu dai saku kemeja. "Awas tante saya mau bawa om Sabda ke rumah sakit! Lain kali jangan maksa!" "Saya ikut!" "Gak usah! Takut nyusahin!" tolak Tanisha yang langsung menutup pintu penumpang dan Tanisha segera berlari ke arah pengemudi. Raisa tertohok saat di bentak oleh anak kecil seperti Tanisha. "Nyusahin?" gumam Raisa tak habis pikir. Kini Tanisha menyalakan mesin mobil Sabda. Sebelum ia melajukan mobilnya, Sabda memegang tangan Tanisha. "Kamu bisa nyetir?" "Gak tau om, makanya kita coba! Pegangan om!" "ICHA!!" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN