BAB 8 - Pingsan

1061 Kata
"ICHA!" Sabda langsung turun dari tempat tidurnya, mencopot paksa infusan yang tertancap di tangannya saat melihat Tanisha tiba-tiba pingsan begitu saja. "Cha bangun Cha," ucap Sabda sambil menepuk pipinya. Wajah Sabda terlihat sangat panik, melihat kondisi Tanisha yang seperti ini. Ia pun segera menggendong Tanisha dan memindahkan tubuhnya ke brangkar tempat milik Sabda tadi. "Sus tolong sus, dia pingsan!" pinta Sabda saat ada suster yang datang menghampirinya. Suster itu menoleh ke arah Sabda, dan melihat infusan yang terlepas. "Loh pak, infusannya copot! Sebentar saya panggil lagi suster lain untuk memasang infusan bapak." Suster memanggil temannya, untuk membantunya menangani Sabda dan juga Tanisha. "Pak ini kenapa tiba-tiba pingsan?" "Saya juga gak tau, wajahnya pucat terus pingsan gitu aja," jelas Sabda sambil di pasangkan kembali infusannya. Tidak lama dokter datang untuk memeriksa Tanisha. Dia dokter yang sama menangani Sabda. Terlihat Sabda sangat cemas saat Tanisha di periksakan oleh dokter tersebut. "Bagaimana dok?" tanya Sabda. Dokter itu selesai memeriksa Tanisha, ia menatap ke arah Sabda yang sedang menunggu penjelasan. "Tadi saat bertemu dengan saya di pintu, nona ini memang sudah pucat wajahnya. Saya tanya keadaannya dia bilang baik-baik saja." "Lalu dia kenapa bisa seperti ini dok? Dia sakit apa?" Dokter itu menghelakan napasnya kasar, "Apa dia memiliki trauma?" Sabda mengernyitkan keningnya, "Trauma? Saya tidak tahu dok. Memangnya dia pingsan karena itu?" "Daei gejalanya seperti itu. Dia terkena panik attack, sepertinya dia ada trauma dengan rumah sakit, hingga membuat dia seperti ini!" jelas sang dokter. "Tapi apa bisa sembuh? Terus sekarang apa kondisinya serius?" tanya Sabda yang benar-benar khawatir. "Bisa jika melakukan terapi, tapi keadaannya baik-baik saja, nanti kita pindahkan ke ruang rawat inap," jelas dokter membuat Sabda bernapas lega. "Kalau gitu saya tinggal dulu, kalau ada apa-apa bisa segera panggil saya," pamit sang dokter pergi meninggalkan mereka. Tatapan Sabda kini tertuju pada Tanisha yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Melihat wajahnya yang terlihat sangat tenang, mengingatkan dia pada seseorang. Sebelah sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, ada rasa yang masih berisik di dalam benaknya. Sabda mengusap wajahnya kasar, tidak lama seorang suster menghampiri untuk memindahkan Tanisha ke ruang rawat inap. Sabda mengikuti langkah suster tersebut sambil mendorong infusannya sendiri. "Sabda..." Terdengar suara yang sangat familiar, ia menoleh ke belakang dan tampak Farid yang sedang berlari kecil menghampirinya. "Lu gak apa-apa?" tanya Farid sambil memegang pundaknya. "Gak apa-apa," jawabnya. "Tadi Tanisha nelpon gua, masih tahu kalau lu di rumah sakit. Sekarang anak gue di mana?" tanyanya. "Dia pingsan sekarang mau dibawa ke ruang rawat inap, dia punya trauma?" Farid mengusap wajahnya kasar, tampak ada rasa penyesalan karena dia datang terlambat. "Sekarang dia di mana?" Sabda menunjuk ke arah brangkar yang masih di dorong oleh suster. Farid dan Sabda langsung mengikuti menuju ruang rawat inap di lantai tiga. Setelah suster memindahkan Tanisha ke ruang rawat Inap, dan memastikan alat medis terpasang dengan baik, ia pun segerakan pergi dari sana hingga meningal Sabda dan Farid. Kedua pria itu berdiri di sisi masing-masing ranjang, menatap ke arah Tanisha yang masih belum sadarkan diri. Farid mengusap kepala anaknya, terlihat tatapan Farid begitu sendu, bukannya Sabda tidak tahu, dengan keadaan Farid yang seperti ini. Dia akan menjadi orang yang merasa paling bersalah jika terjadi sesuatu pada Tanisha. "Maafkan papah nak," ucapnya. Sabda menghela napasnya pelan, "tadi kata dokter Dia terkena panik attack. Dia punya trauma?" Farid langsung menganggukkan kepalanya, dengan tatapan yang masih tertuju pada anaknya. "Dia trauma masuk rumah sakit, kamu masih ingat gimana Naya meninggal? Ia melihat semuanya, melihat bagaimana kondisi ibunya saat itu." Ya, tentu Sabda mengingat kejadian itu, di mana Naya yang merupakan temennya juga meninggal karena kecelakaan yang nahas. Sabda terdiam, memorinya dulu teringat kembali. Rasa sesak di dadanya terasa kembali. "Jadi setiap dia masuk ke rumah sakit, trauma itu akan muncul. Makanya aku jarang atau bisa di bilang gak pernah bawa dia ke rumah sakit, kalau pun sakit aku panggil dokter ke rumah," jelas Farid. Andai Sabda tahu Tanisha memiliki trauma itu, mungkin dia akan meminta Raisa saja yang mengantarnya. Rasa bersalah pada Tanisha karena telah membuat dia seperti ini. "Sorry gua gak tau kalau Icha punya trauma kata gini!" paparnya. "Gak apa-apa, lagian kan lu juga gak tau. Toh Icha sekarang gak apa-apa, btw lu kenapa sampe harus di larikan ke rumah sakit?" tanya Farid. "Alergi gua kambuh, gua lupa gak bawa obat, akhirnya sama Icha di bawa gua ke sini!" jelas Sabda. "Kok lu bisa kambuh? Makan apaan?" "Panjang ceritanya, intinya gue ketemu sama Raisa dan dipaksa makan makanan pesanan dia." Farid hanya menganggukkan kepalanya. "Kok lu bisa sama anak gua?" "Gua nggak sengaja lihat Icha ada di halte bis, Ya udah gua ajak aja dia pulang bareng. Terus dia lapar mampirlah kami ke restoran," jelas Sabda. Farid tertawa pelan, saat mengingat sesuatu. "Kenapa lo ketawa? Emang ada yang lucu?" "Gua keingatan aja waktu Icha nggak tahu kalau lu Sabda, pulang ke rumah dia marah-marah sama gua. Emang dia ngapain di rumah lu?" tanya Farid. "Anak lu kegatelan, sampai gak habis pikir. Kenapa sikapnya mirip banget sama lu? Perasaan si Naya kalem banget orangnya, kenapa gak sifat dia aja yang turun ke Icha, malah elu!" Farid mendelikkan matanya, ingik sekali protes. Bagaimana tidak dia mewariskan sifat tengilnya pada Tanisha, toh Farid yang buat. "Ya Kan gua bapaknya! Ya kali mirip lu!" kesal Farid. Sabda terkekeh pelan, melihat Farid tampak kesal padanya. "Tapi wajahnya mirip banget ya sama Naya." Farid menganggukkan mengiyakan perkataan Sabda. "Makanya gua nggak bisa move on dari Naya, yang penting sekarang Icha hidup tanpa kekurangan. Gua mau fokus ngebesarin dia jadi orang yang sukses." "Lu mah kepikiran buat nikah lagi?" Bohong kalau Farid tidak ingin menikah lagi, bagaimanapun dia itu pria dewasa yang butuh kasih sayang agar bisa menyalurkan apa yang ada di dalam dirinya. Farid tidak langsung menjawab, dia diam dengan tatapan sendu. "Mungkin untuk sekarang tidak, aku lebih milih fokus kembangin usaha aku buat masa depan Tanisha." "Dia gak pernah nyuruh kamu nikah?" "Gak juga sih, Icha lebih ngeserahin semuanya ke aku, karena aku yang jalanin. Untuk nikah lagi gak semudah itu, gua pengen yang sayang sama anak gua juga, gak mau kalau dia cuman sayang sama gua aja!" Jelas Farid. Sabda terdiam, benar apa yang di katakan Farid. Dan Farid juga begitu setia pada Naya, tidak lama beberapa jemari Tanisha bergerak, dan Sabda melihatnya. "Rid, tangan Icha gerak!" Ke duanya langsung menoleh ke arah Tanisha, kepalanya sedikit bergerak dengan suara yang meringis kesakitan. "Mama..." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN