Leah menghubungi Laila saat itu juga. Tidak ada nama yang terpikirkan selain sekretarisnya itu. Dia menyuruh Laila untuk datang pulang karena ia sudah berada di depan apartemen Laila. Dua puluh menit menunggu Laila di depan pintu, akhirnya Laila tiba dengan wajah paniknya. "Apa terjadi sesuatu? Ya ampun, ada darah yang menempel di bajumu, Leah!" seru Laila heboh sendiri. Bahkan Laila melupakan keformalan-nya ketika berbicara dengan Leah. "Wajahmu juga pucat," lanjut Laila. "Biarkan aku masuk dan minum dulu, Laila," ujar Leah dengan serak. "Ah iya, iya." Laila membuka pintu apartemen-nya dan mempersilakan Leah masuk. "Akan aku ambil minum dulu," ucap Laila berjalan menuju dapur, sedangkan Leah menjatuhkan dirinya di sofa. Laila kembali dengan membawa dbeotol air mineral dingin. "Min

