Pagi itu rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Amira mondar-mandir di kamar sambil memeriksa koper terakhirnya. Ia memastikan segala sesuatu yang masuk dari pakaian musim dingin, syal tebal, sepatu nyaman, obat-obatan, hingga hadiah kecil yang ia siapkan diam-diam untuk Dimas. Sesekali ia berhenti, menarik napas panjang, lalu tersenyum sendiri perjalanan ini terasa seperti mimpi. “Wina, koper yang ini tolong ditutup ya,” ujar Amira sambil merapikan cardigan di tubuhnya. “Baik, Nyonya,” jawab Wina sambil menekan koper besar itu hingga bisa dikunci dengan rapi. “Wah, banyak juga ya barangnya. Korea pasti dingin sekali ya?” Amira tertawa kecil, sedikit malu. “Iya… aku takut kedinginan. Jadi bawa banyak baju hangat.” Wina membantu menarik koper keluar kamar dan mengikuti Amira menuju rua

