Bab 45

1170 Kata

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Dimas bersandar di kursi belakang, menatap keluar jendela sambil mengetukkan jarinya perlahan di paha. Bayangan wajah Chintya, kata-katanya, dan tatapan penuh kebencian itu masih tersisa di benaknya. “Raka,” panggil Dimas akhirnya, suaranya tenang namun mengandung beban pikiran. Raka yang sedang menyetir sedikit menoleh. “Ya, Pak?” “Ada kemungkinan Chintya bebas?” tanya Dimas langsung, tanpa berputar-putar. Raka mengerutkan kening. “Secara hukum… kemungkinan itu sangat kecil, Pak.” “Sekecil apa?” desak Dimas, matanya tetap menatap jalanan yang berkelebat. “Kecuali dia menyewa pengacara yang sangat handal, atau…” Raka menahan kalimatnya sejenak. “Atau berani menyuap jaksa dan hakim. Tapi saya yakin itu nggak akan pernah terjadi.”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN