Pagi itu, suasana rumah terasa hangat dan damai. Setelah sarapan bersama di meja makan, dengan tawa kecil Amira saat melihat Dimas terus memakan roti buatan Wina karena masih lapar mereka akhirnya beranjak menuju ke kamar, karena Dimas hendak bersiap sebelum pergi. Dimas berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja putih bersihnya. Lalu ia mengambil dasi burgundy yang diberikan Amira semalam, menatapnya sejenak dengan senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Warnanya terlihat elegan, sangat khas hadiah dari seseorang yang memperhatikan detail sederhana namun bermakna. Saat Dimas mulai memasang dasinya, suara langkah pelan terdengar dan Amira muncul di ambang pintu. “Mas… berangkat sekarang?” tanyanya lembut. Dimas menoleh, dan Amira langsung memperhatikan dasi yang tergantung rapi

