Bab 43

1131 Kata

Bab 39 Kini Dimas dan Amira sudah duduk di meja makan. Meja itu sudah dihias cantik oleh Wina, dengan lilin kecil, serbet yang dilipat rapi, dan aroma ayam panggang yang memenuhi ruangan. Amira terlihat gugup, tangannya saling menggenggam di bawah meja, menunggu reaksi Dimas. Dimas mengambil potongan ayam panggang buatan Amira. Ia meniup sedikit, lalu menggigitnya perlahan sambil memasang wajah serius, bahkan terlalu serius. Alisnya mengerut, mulutnya mengunyah pelan, dan kepalanya sedikit miring seolah sedang menganalisis sesuatu yang rumit. Amira langsung panik. “Loh… kenapa? Keasinan, ya? Kurang matang? Atau… aku terlalu banyak kasih bumbu?” Suaranya lirih tapi cemas. Dimas tidak menjawab, hanya terus mengunyah dengan tatapan lurus ke piring. Ia bahkan menahan napas sejenak, lalu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN