. Beberapa waktu kemudian, Dimas menyusul ke arah dapur. Ia ingin memastikan Amira tidak memaksakan diri. Ia tahu gadis itu sering merasa tidak enak hati dan menganggap semua yang ia terima sebagai bentuk utang budi. Namun baru beberapa langkah mendekat, Dimas mencium aroma masakan yang asing namun menggugah selera. Wangi itu membuatnya berhenti sejenak, lalu mempercepat langkah karena penasaran. Saat sampai di dapur, yang pertama kali dilihatnya adalah punggung Amira. Gadis itu tampak sibuk mengaduk sesuatu di atas kompor. Sesekali terdengar senandung kecil dari bibirnya—ringan, riang, dan terdengar begitu tulus. Seolah apa yang sedang ia lakukan adalah hal yang sangat menyenangkan baginya. Dimas terdiam. Rasa lega perlahan menjalar di dadanya, disusul perasaan hangat yang sulit dije

