“Mama dan Papa mau mampir ke rumah kamu,” ucap Mama di seberang sana dengan nada yang jelas tak memberi ruang untuk dibantah. “Sudah lama kita nggak ketemu. Oh iya, Chintya juga ikut.” Dimas memejamkan mata sejenak. Ia menghela napas perlahan, berusaha menahan emosi. “Jam berapa Mama sama Papa mau ke sini?” tanyanya akhirnya. “Nanti malam. Sekalian makan malam bersama,” jawab Ratna singkat. “Oke,” kata Dimas. Ia sempat mengira sambungan telepon akan segera diputus. Namun ternyata belum. “Dimas,” suara Ratna kembali terdengar, kali ini lebih serius. “Mama dengar kamu bawa seorang perempuan tinggal di rumah kamu. Apa itu benar?” Dimas terdiam sejenak sebelum menjawab. “Iya, Ma. Aku nggak sengaja hampir nabrak dia. Kondisinya waktu itu nggak baik, dan dia nggak punya siapa-siapa. Jad

