Dimas melepaskan jasnya dengan cepat dan menghampiri Wina yang keluar dari dapur sambil membawa nampan kosong. “Wina,” panggilnya pelan namun tegas. “Amira di mana? Dari tadi aku nggak lihat dia.” Wina menunduk sopan. “Nyonya ada di kamarnya, Tuan. Tapi… seharian ini nggak keluar sama sekali. Makan siang pun cuma disentuh sedikit sekali. Seperti enggan makan.” Dimas langsung terdiam. Sekejap saja, kekhawatiran naik memenuhi pikirannya. “Seharian di kamar?” ulangnya, suaranya merendah, berubah lebih cemas dari yang ia maksudkan. Wina mengangguk. “Iya, Tuan. Saya sudah ketuk beberapa kali, tapi beliau bilang ingin sendiri.” Tidak menunggu penjelasan lebih lanjut, Dimas segera melangkah cepat menuju lantai atas. Setiap anak tangga terasa berat, seolah bayangan kemungkinan buruk menghant

