Bab 18

856 Kata

“Kamu.” Chintya terkekeh tipis, nadanya dingin dan menusuk, lalu melangkah mendekati Amira, yang baru saja datang. Amira mundur selangkah, matanya membesar. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, jantungnya berdetak lebih cepat. “Setelah aku peringatkan, kupikir kamu bakal tahu diri dan pergi dari rumah ini. Tapi ternyata… enggak. Sampai hari ini, kamu bahkan masih di sini. Gak tau malu banget, ya?” ucap Chintya, nadanya menusuk dan penuh kepuasan. “A-aku…” Amira tergagap, suaranya bergetar. “Apa kamu tahu? Gara-gara kamu, Dimas dan ibunya bertengkar. Gara-gara kamu, Dimas jadi bahan omongan orang-orang dan dicap jelek. Dia sampai muncul di pemberitaan. Citranya jadi buruk. Itu semua… gara-gara kamu. Denger?” Chintya melanjutkan dengan nada menyudutkan. Amira menggeleng, tak percaya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN