Bab 17

903 Kata

Sebuah mobil berhenti di depan rumah Dimas. Dari kursi penumpang turun Chintya dengan pakaian rapi dan wajah tenang. Malam membuat langkahnya terdengar jelas di halaman yang sunyi. Tak lama kemudian, Ratna turun dari kursi belakang. Penampilannya langsung mencolok di bawah lampu halaman—busana rapi dan berkelas, riasan wajah tegas, seolah malam tak mengurangi wibawanya sedikit pun. Di tangannya, sebuah kipas terbuka, digerakkan pelan, menjadi ciri khas yang selalu ia bawa ke mana pun. Ratna melangkah ke teras dan langsung mengetuk pintu rumah Dimas. Chintya berdiri di belakangnya. Tak lama kemudian pintu dibuka. Dimas muncul dengan wajah terkejut. “Mama? Tumben ke sini nggak telepon dulu?” tanyanya sambil mempersilakan mereka berdua masuk. “Masa ke rumah anak sendiri Mama harus bilang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN