Bab 29

1022 Kata

Di ujung lorong Rumah sakit, Raka sudah menunggu dengan tangan bersedekap. Begitu melihat Dimas mendekat, ia langsung berdiri tegak. “Gimana?” tanya Dimas tanpa basa-basi. Suaranya terdengar berat, seperti menahan kemarahan yang hampir meledak. Raka menghela napas panjang. “Untuk sekarang… polisi belum bisa ambil keterangan dari Chintya. Keadaannya masih kritis, dia belum sadarkan diri.” Dimas mengepalkan tangan. “Sial.” Ia menunduk, menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosi. “Harusnya semuanya selesai hari ini. Harusnya aku sudah dapat jawaban.” “Pak,” panggil Raka pelan, mencoba menenangkan, tapi Dimas menggeleng. “Aku nggak ngerti kenapa dia sampai segininya,” gumam Dimas. “Fitnah iya, menyebar rumor iya. Tapi nyawa? Dia benar-benar berani ngincer Amira?” Raka ragu beberapa de

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN