. Amira menatap wajah Dimas beberapa detik, tenang, damai, dan sedikit lelah. Mungkin ia tidak tidur nyenyak semalam, pikir Amira. Dengan hati-hati ia hendak bangun, tetapi tangan Dimas menahan pinggangnya. “Pagi…” gumam Dimas dengan suara serak khas baru bangun. “Mas bangun?” tanya Amira pelan. “Hmm.” Dimas membuka mata dan tersenyum kecil. “Kamu tidur lebih nyenyak?” Amira mengangguk. “Iya. Karena Mas ada di sini.” Dimas mengusap puncak kepala Amira sekilas, lalu melepaskannya perlahan. “Ayo, kita mandi dan turun sarapan. Om Agus pasti sudah bangun.” *** Aroma teh panas dan roti panggang memenuhi ruang makan ketika mereka turun. Agus sudah duduk sambil membaca pesan di ponselnya. Wina mondar-mandir menata meja. Amira mempercepat langkahnya. “Om, pagi.” Agus menurunkan ponsel da

