Udara malam mulai turun, sejuk dan membuat tubuh yang sempat basah oleh ombak terasa sedikit menggigil. Namun senyum Amira tak pernah benar-benar hilang dari wajahnya. Hari itu begitu penuh tawa, dan rasa itu menetap, menggantung lembut di dadanya. Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Di dalam mobil, Amira sering kali terpejam, bukan karena tertidur, tapi karena tubuhnya mulai lelah dengan cara yang menyenangkan, kelelahan setelah bermain, bukan setelah menangis. Dimas beberapa kali meliriknya dan tersenyum kecil ketika melihat bagaimana gadis itu memeluk tangannya sendiri untuk mempertahankan kehangatan. “Capek?” tanya Dimas pelan. Amira membuka mata sedikit. “Sedikit… tapi senang.” “Bagus,” balas Dimas. “Aku juga senang.” Mobil melaju dalam hening nyaman hingga akhirnya mereka tib

