Bab 40

1014 Kata

Amira mengikat rambutnya, langkahnya menuju dapur terasa penuh tekad. Amira menelan ludah. “Ternyata serumit ini, ya.” “Nggak serumit yang terlihat, kok,” ujar Wina menenangkan. “Kita mulai sekarang?” Amira mengangguk mantap. “Iya. Ayo!” Wina memberikan apron kecil untuk Amira. “Pakai ini dulu biar bajunya nggak kotor.” Amira memakai apron itu dengan canggung, talinya sempat kusut dan Wina membantu merapikannya sambil tersenyum. “Baik,” kata Amira sambil mengusap tangan di apron. “Langkah pertama apa?” “Lelehkan cokelat dan margarin,” jawab Wina. “Nyonya bisa potong cokelatnya dulu.” Amira mengangguk dan mengambil pisau. Namun saat mau memotong cokelat, pisau itu malah terpeleset sedikit dan nyaris jatuh. “Nyonya hati-hati…” Wina refleks menahan pisaunya. Amira tergelak malu. “Ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN