Amira melangkah masuk ke butik itu dengan sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia benar-benar berniat membeli sesuatu untuk Dimas, hadiah yang bukan asal pilih, bukan sekadar formalitas, tapi sesuatu yang ia harap bisa membuat pria itu tersenyum. Aroma parfum lembut dan musik instrumental memenuhi ruangan, membuat suasana butik terasa elegan dan hangat. Ia mulai dari deretan kemeja yang tertata rapi di rak kiri. Warna-warnanya netral, putih, biru langit, abu-abu, hitam. Amira memegang salah satu, meraba bahannya. Halus, dingin, pastinya mahal. Tapi setelah melihat dua, tiga, empat kemeja… alisnya mulai mengernyit. “Kenapa bentuknya sama semua ya?” gumamnya pelan sambil mengerutkan bibir. Semua kemeja itu memang tampak serupa, kerah yang sama, potongan yang sama, hanya warna yang berbeda.

