bc

Hamil Diam-Diam, Lalu Menghilang

book_age4+
108
IKUTI
1K
BACA
billionaire
like
intro-logo
Uraian

“Dia sudah kembali, ayo kita bercerai.”

Setelah tiga tahun menjalani pernikahan rahasia, pria itu menemukan masalah di keluarga Keyla dan meminta cerai ketika sang istri sedang hamil. Ketika wanita itu meminta bantuannya, dia justru mengabaikannya.

Benar-benar kecewa, wanita itu menyembunyikan kehamilannya dan menandatangani surat cerai. Dia mengira setelah bercerai mereka akan benar-benar berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Namun, kehamilannya akhirnya terbongkar.

Ketika pria itu mengajaknya rujuk, Keyla berkata dengan marah, “Aku hanya ingin mempertahankan anak ini dan memberikan hak berkunjung sebagai ayah. Jika kau menginginkannya, kau harus berlutut dan memohon kepadaku.”

Keyla pikir pria itu akan mundur setelah mendengar perkataannya. Namun, Keyla telah meremehkan betapa nekatnya pria itu.

Tak lama kemudian, sebuah video yang memperlihatkan pria itu berlutut sambil memohon agar mereka rujuk kembali, diputar sepanjang hari di layar-layar raksasa di kawasan tersibuk Kota Jakarta.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Dia Hamil, Masalah di Perusahaan
Dia hamil. Dilihat dari waktunya, kehamilan itu pasti terjadi bulan lalu, saat kebersamaan terakhir mereka, sebelum kemudian Keanu Danendra meminta cerai. Selama tiga tahun, dia selalu mendambakan seorang anak dari pria itu. Namun, siapa sangka, anak ini justru datang ketika mereka sudah berada di ambang perceraian. Untuk sesaat, Keyla Wijaya tidak tahu apakah harus sedih atau bahagia. Dia mengambil testpack dari tangan sahabatnya. Ketika melihat dua garis di sana, ekspresinya menjadi rumit. “Anak ini benar-benar datang di waktu yang paling buruk. Kau dan suamimu sudah memutuskan untuk bercerai ….” Olivia berhenti di tengah kalimat dan menghela napas pelan. Keyla menggenggam erat testpack itu. Senyum getir terukir di wajahnya, disertai nada pahit. “Ya. Benar-benar waktu yang buruk.” Kedatangan anak ini terlalu mendadak, membuatnya sama sekali tidak siap. Dia menarik napas perlahan, lalu berkata dengan suara rendah, “Tolong rahasiakan dulu soal ini.” Olivia membuat gestur “oke”, diam-diam memahami maksudnya. Dia dan Keyla adalah teman sekelas saat SMA. Mereka kemudian kuliah di fakultas kedokteran yang sama, melanjutkan studi ke luar negeri selama tiga tahun, dan kini bekerja di departemen yang berbeda di rumah sakit yang sama. Olivia juga salah satu dari sedikit orang yang mengetahui status pernikahan Keyla. Saat melihat Keyla hendak pergi, Olivia tak tahan untuk mengingatkannya lagi. “Tapi kalau kau memang tidak menginginkan anak ini, kau harus segera mengambil keputusan. Bagaimanapun juga kau akan ikut evaluasi kenaikan jabatan pertengahan tahun ini. Kau harus memilih antara pernikahan dan karier, kan?” Mendengar itu, Keyla berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan sebelum membuka pintu ruang kerja dan berjalan keluar. Dia akan mempertahankan anak ini, tetapi pernikahannya sudah tidak bisa diselamatkan. Dari pintu ruang kerja di sebelahnya, terdengar suara seorang dokter sedang memberikan nasihat. “Nona Sabrina, Anda masih perlu banyak beristirahat dan menghindari aktivitas yang terlalu berat. Anda sekarang agak anemia, jadi perbanyak makanan yang kaya zat besi. Kalau tidak, asupan nutrisi untuk bayinya mungkin tidak mencukupi, dan itu tidak baik untuk persalinan nanti.” “Baik, terima kasih, Dokter Arkan.” Suara wanita yang lembut dan merdu terdengar dari dalam ruangan, membuat ekspresi Keyla sedikit berubah. Suara itu terasa tidak asing. Dia pernah mendengarnya dari ponsel suaminya. Sepertinya itu suara cinta pertama suaminya. Keyla sudah sampai di ujung koridor, tetapi dia tidak kuasa menahan diri untuk berbalik dan melihat. Dia melihat seorang wanita bertubuh mungil dan berparas lembut berdiri di samping seorang pria yang memancarkan aura dingin sekaligus berkelas. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang dipadukan dengan celana dan jas hitam. Paras tampannya adalah tipe wajah yang akan membuat siapa pun menoleh ke mana pun dia pergi. Keyla terdiam, jemarinya semakin erat menggenggam testpack. Pria itu adalah suaminya selama tiga tahun ini, Keanu Danendra. Dokter itu menyebutkan beberapa makanan yang kaya zat besi. Wanita berwajah lembut itu meraih lengan pria itu dan berkata dengan manja, “Keanu, ingatanku tidak terlalu bagus. Kau harus membantuku mengingatnya.” “Oke.” Pria itu mengangguk pelan. Sepasang mata hitam yang biasanya dalam dan sedingin es kini memancarkan sedikit kehangatan. Keyla melihat dengan jelas sisi lain dari diri Keanu. Rasa nyeri menusuk hatinya, tetapi dia segera menekannya. Keyla menenangkan diri, berdiri di sudut koridor, lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon Keanu. Panggilan pertama ditolak oleh pria itu. Panggilan kedua juga langsung diputus. Keyla bukanlah orang yang suka memaksakan kehendak. Namun kali ini, dengan keras kepala dia menekan nomor yang sama untuk ketiga kalinya. Pada panggilan ketiga, pria itu akhirnya mengangkat. “Aku sedang sibuk.” Begitu mengangkat telepon, Keanu melontarkan tiga kata dengan dingin. Dia bahkan tidak memberi Keyla kesempatan untuk bicara sebelum langsung memutuskan panggilan. Keyla menggenggam ponselnya erat. Rasanya bahkan untuk bernapas pun terasa menyakitkan. Dia memang sedang sibuk. Sibuk menemani cinta pertamanya melakukan pemeriksaan kehamilan. Sibuk mengingat makanan apa saja yang seharusnya dimakan wanita itu selama kehamilannya. Dua tahun lalu, ketika Keyla berusaha untuk hamil, dia tidak pernah sesabar ini. Keyla menarik napas dalam-dalam dan hendak pergi ketika suara lembut seorang wanita terdengar. “Keanu, tadi telepon dari perusahaan? Apa aku mengganggu waktumu?” “Tidak.” Suara pria itu rendah. Dia menjawab hampir seketika, seolah terlambat sedetik saja akan membuat wanita itu merasa tersakiti. Keyla tak kuasa untuk menahan ingatan bagaimana dingin dan acuhnya Keanu setiap kali berinteraksi dengannya. Dia menceraikannya karena wanita ini. Selama sebulan terakhir, pria itu tidak memberikan satu pun penjelasan. Dia hanya menyerahkan surat perjanjian perceraian yang dingin dan tanpa emosi. Keyla mengatupkan bibirnya. Kedua tangannya berada di dalam saku jas putihnya, lalu dia keluar dari koridor, masuk ke ruangan. Alaminya, Keyla memang memiliki tubuh yang tinggi dan ramping. Jas putih sederhana yang dikenakannya memancarkan kesan anggun dan konservatif, semakin menonjolkan aura seorang wanita terpelajar dan berkelas. Keyla tersenyum tipis, menangkap sekilas kebingungan di mata pria itu, lalu berkata dengan lembut, “Kebetulan sekali.” Jadi, rumor itu benar. Cinta pertama Keanu telah kembali ke negara ini. Itulah alasan dia begitu terburu-buru ingin menceraikannya. Hanya dalam waktu satu bulan, dia sudah mengatur tiga kali pertemuan dengan pengacara untuk membahas perceraian. Sabrina Haris menatap dokter wanita yang anggun dan cantik di hadapannya. Matanya bergerak sedikit. Dia melangkah maju, dengan mesra menggandeng lengan Keanu, lalu mendongak menatap Keyla. “Keanu, dia siapa?” Alis pria itu berkerut. Tatapan dinginnya jatuh kepada Keyla, sementara suaranya tak mengandung emosi sedikit pun selain sikap acuh tak acuh. “Cucu angkat nenekku.” Sebelum mereka menikah, Nenek Danendra telah mengangkat Keyla sebagai cucu angkatnya agar Keyla memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan Keanu. Dia bahkan sering mencari alasan untuk mengundang Keyla ke kediaman keluarga Danendra. Selama bertahun-tahun, Keyla hampir melupakan hal itu. Dia tidak menyangka Keanu masih mengingat identitasnya. Keyla tak kuasa menahan senyum. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyum yang sarat sindiran. “Jadi, Nona Sabrina tidak tahu siapa aku.” Ucapannya bermakna ganda. Dia mendongak menatap Keanu, dengan senyum tipis di bibir. “Nona Sabrina, halo. Aku ….” Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, pria itu memotongnya tanpa ekspresi, “Kalau Dokter Keyla sedang senggang, sebaiknya lebih sering menjenguk Tuan Wijaya. Sepertinya dia sedang kurang sehat akhir-akhir ini.” Sepasang mata gelapnya yang menyerupai malam menyiratkan sedikit peringatan. Keyla terdiam. Kata-kata yang hendak diucapkannya tertahan di tenggorokan. “Ayo pergi.” Keanu melirik Keyla untuk terakhir kalinya dengan tatapan acuh tak acuh, lalu meraih tangan Sabrina dan berjalan meninggalkannya. Saat memasuki lift, Sabrina menoleh untuk melihat Keyla. Sepasang matanya yang jernih menyimpan emosi yang sulit dijelaskan. Sejak menikah dengannya, Keanu tidak pernah secara terbuka mengakui bahwa dirinya telah menikah. Di Jakarta, hanya sedikit orang yang mengetahui pernikahan mereka. Bagaimanapun, menurut pandangan Keanu, Keyla telah memaksanya menikah dengan memanfaatkan rasa utang budi yang dimilikinya. Akibatnya, Sabrina pergi dengan hati yang hancur. Hati Keyla terasa diremas kuat-kuat. Tangannya yang berada di dalam saku jas putih masih menggenggam erat testpack tadi. Ponselnya berdering. Panggilan itu dari kepala pelayan keluarga Wijaya. Keyla menahan air mata yang hampir jatuh. “Nona, tolong segera datang ke rumah sakit.” “Bapak … beliau mencoba bunuh diri dengan meminum obat. Sekarang beliau mengalami keracunan obat dan sedang mendapat penanganan darurat di rumah sakit.” Di IGD. Ketika Keyla tiba, dia melihat Elisa Wijaya berdiri di depan IGD. Punggungnya tegak, memancarkan aura anggun dan berwibawa. Keyla segera menghampirinya dan bertanya, “Kakak, Ayah…” Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, suara dingin Elisa langsung menyela, “Sudah bicara dengan Keanu soal masalah perusahaan? Bagaimana hasilnya?” Grup Wijaya baru-baru ini menghadapi krisis keuangan yang serius. Para mitra dari proyek-proyek yang sebelumnya telah sepakat semuanya meminta untuk mengakhiri kontrak. Jika Keanu bersedia membantu, perusahaan masih memiliki peluang untuk melewati masa sulit ini. Mendengar itu, Keyla menunduk dan berkata, “Belum. Kami sedang mengurus perceraian.” Dia menggigit bibirnya kuat-kuat, tidak berani mengangkat wajah untuk melihat ekspresi Elisa ketika mengucapkannya. Elisa menatapnya lekat-lekat. Matanya dipenuhi ekspresi tidak percaya dan kebingungan. “Apa katamu?” Keyla kembali menggigit bibirnya kuat. Elisa menarik napas dalam-dalam. Wajahnya dipenuhi frustrasi saat menatap Keyla. “Keyla, masalah perusahaan ini sangat rumit, dan Ayah serta aku jarang membicarakannya denganmu. Karena aku memintamu meminta bantuan Keanu, seharusnya kau mengerti betapa seriusnya situasi ini. “Ayah masih di dalam sana dan sedang diselamatkan. Bukankah nyawa Ayah lebih penting daripada harga dirimu di hadapan Keanu?”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menikahi Presdir Lumpuh

read
1.4K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.6K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

TAKDIR KEDUA

read
36.6K
bc

Paman Calon Suamiku Ternyata Ayah Anakku 

read
1K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.7K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook