bc

Jodoh Pilihan Netizen

book_age16+
19
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
family
HE
love after marriage
fated
friends to lovers
arranged marriage
submissive
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
campus
city
office/work place
office lady
like
intro-logo
Uraian

Kayra Aninditha punya dua puluh tiga juta followers, puluhan kontrak endorsement, dan satu masalah besar: popularitasnya mulai turun.

Untunglah dari netizen Kayra menemukan solusi.

Mereka menjodohkannya dengan Naufal Althaf, ustadz viral yang terkenal adem, santun, dan punya jutaan penggemar.

Awalnya Kayra menganggap itu ide yang brilian.

Kalau mereka menikah kontrak selama beberapa bulan, citranya naik, followers bertambah, sponsor berdatangan, lalu hidup kembali bahagia.

Masalahnya...

Naufal menolak.

Karena nikah kontrak haram.

Yang lebih bermasalah lagi...

Naufal malah menawarkan pernikahan sungguhan.

Kini Kayra terjebak dalam pernikahan paling absurd dalam hidupnya.

Di satu sisi dia masih terobsesi pada angka, algoritma, dan validasi manusia.

Di sisi lain, suaminya adalah seorang ustadz yang lebih peduli isi hati daripada jumlah followers.

Bisakah seorang artis yang hidup demi perhatian manusia belajar hidup demi sesuatu yang lebih besar?

Atau justru sang ustadz yang akan menyerah menghadapi istrinya yang bisa panik hanya karena kehilangan dua puluh ribu followers?

Satu hal yang pasti.

Menikah karena pilihan netizen ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang mereka kira.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1: Nikah Kontrak
Ada banyak keputusan buruk dalam hidup. Sebagian orang membeli barang diskon yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Sebagian lagi balas chat mantan tunangan karena merasa sudah move on. Padahal setelah dibalas jadi kepikiran lima hari enam malam. Dan pagi itu, Kayra Aninditha, seorang artis terkenal ibu kota sedang dalam perjalanan melakukan keputusan buruk versinya sendiri. Dan keputusan buruk itu adalah: MENGAJAK SEORANG USTADZ VIRAL MENIKAH KONTRAK. Kalau kalian merasa itu ide yang buruk, tenang saja. Kayra juga merasa begitu. Masalahnya, dia baru sadar ketika mobil yang ditumpanginya sudah tinggal lima menit lagi sampai tujuan. "Masih bisa putar balik nggak?" tanya Kayra. Wanita yang duduk di sebelahnya menoleh. Namanya Shania Pradani. Manajer. Teman. Pengingat pajak. Penyelamat karier. Dan kadang-kadang penyebab masalah. "Tidak." jawab Shania santai. "Kenapa?" "Karena kita sudah hampir sampai." "Aku mendadak pengen demam." "Telat." "Aku bisa pingsan." "Kamu nggak bisa akting sebagus itu." Kayra mendengus. Tidak sopan memang. Tapi itulah Shania. Kalau ada lomba memberikan dukungan emosional paling buruk sedunia, perempuan itu kemungkinan masuk tiga besar. "Ini ide paling bodoh yang pernah aku lakukan." kata Kayra. Shania mengangguk. "Betul." Kayra menoleh cepat. "Kok betul?" "Karena memang betul." "Lalu kenapa kamu mendukung?" "Karena ide-ide sebelumnya lebih bodoh." Kayra terdiam. Sayangnya argumen itu sulit dibantah. Mobil terus melaju. Sementara itu jantung Kayra memutuskan untuk mengikuti lomba lari maraton sendirian. Padahal biasanya dia tidak segugup ini. Dia pernah diwawancarai televisi nasional. Pernah tampil di depan puluhan ribu penonton. Pernah salah menyebut nama sponsor saat siaran langsung. Dan tetap hidup. Tapi hari ini berbeda. Karena kali ini yang dipertaruhkan bukan rating. Bukan kontrak iklan. Bukan jumlah viewers. Melainkan harga dirinya. "Kalau dia marah gimana?" tanya Kayra. "Ya marah balik." "Kalau dia ngusir aku?" "Ya keluar." "Kalau dia lapor polisi?" Shania menatapnya. "Kamu ngajak nikah, bukan ngajak merampok bank." "Oh iya juga." Beberapa detik hening. Lalu Kayra kembali panik. "Aduh." "Kenapa lagi?" "Aku lupa latihan pidato." Shania memejamkan mata. Mungkin sedang berdoa agar diberi kesabaran. Atau kekuatan. Atau tiket liburan. Sulit ditebak. Kayra lalu mulai latihan sendiri. "Halo Ustadz Naufal, saya ingin menawarkan peluang kerja sama yang sangat menguntungkan..." Dia berhenti. Menggeleng. "Nggak. Ini kayak sales asuransi." "Memang." Kayra mencoba lagi. "Assalamu'alaikum. Saya ingin membicarakan masa depan umat..." Dia kembali berhenti. "Ini kayak calon legislatif." "Lebih parah." Kayra menarik napas. Mencoba versi ketiga. "Mas Naufal, bagaimana kalau kita menikah kontrak demi kepentingan bersama?" Shania menoleh. "Kamu tahu nggak?" "Apa?" "Itu terdengar seperti penjahat film yang lagi menawarkan kerja sama." Kayra menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi. Selesai sudah. Tidak ada versi yang terdengar normal. Karena memang tidak ada cara normal untuk mengajak ustadz viral menikah kontrak. Mobil akhirnya berhenti. Kayra melihat rumah di depannya. Lalu berkedip. Sekali. Dua kali. "Tunggu." "Apa?" "Itu rumahnya?" "Iya." "Kok biasa?" Shania menatapnya datar. "Kamu berharap apa?" "Minimal ada air mancur." "Kenapa?" "Biar kelihatan viral." Rumah itu sederhana. Rapi. Nyaman. Tidak ada pagar emas. Tidak ada mobil sport berjejer. Tidak ada patung singa. Tidak ada patung kuda. Syukurlah. Karena Kayra tidak pernah mengerti kenapa orang kaya suka membeli patung kuda. Kalau mau kuda sekalian yang hidup. Patung kuda cuma bisa diam. Sama seperti mantan. Bedanya patung kuda tidak mengirim pesan jam dua pagi. Kayra turun dari mobil. membenahi jilbab warna kremnya yang agak menceng. merapikan gamis mahalnya yang harganya bisa buat makan orang sekampung selama sebulan. dandanannya sudah oke semua. namun... Lututnya terasa lebih lemas dari biasanya. Shania ikut turun. "Kamu ikut masuk kan?" tanya Kayra. "Tidak." "Hah?" "Kamu yang mau ngajak nikah." "Temenin." "Tidak." "Shania." "Tidak." "Shania." "Tidak." "Kalau aku pingsan?" "Aku videoin." Kayra menatap manajernya dengan penuh pengkhianatan. Lalu berjalan menuju pintu rumah. Setiap langkah terasa seperti sedang menuju ruang ujian. Dan dia belum belajar sama sekali. Pintu dibuka. Seorang pria menyambutnya. Tinggi. Rapi. Kemeja putih. Wajah tenang. Terlalu tenang. Seolah hidupnya tidak pernah mengalami sinyal internet lemot. "Assalamu'alaikum." sapa Naufal. "Wa'alaikumussalam." jawab Kayra. Mereka saling berjabat tangan jarak jauh sesuai adab yang berlaku. Lalu masuk ke ruang tamu. Suasana mendadak canggung. Sangat canggung. Kalau kecanggungan bisa dijual, mereka berdua mungkin sudah kaya raya. Naufal duduk di sofa. Kayra duduk di seberangnya. Lalu hening. Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik. Akhirnya Naufal membuka percakapan. "Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan?" "Iya." Kayra mengangguk cepat. "Iya banget." "Silakan." Nah. Ini dia masalahnya. Semua pidato yang tadi dia latih mendadak hilang. Lenyap. Menguap. Kabur entah ke mana. Otaknya kosong seperti dompet mahasiswa seminggu sebelum kiriman. "saya ingin menawarkan kerja sama." "Baik." "Sebenarnya saya sudah memikirkan ini cukup lama." "Baik." "Sangat lama." "Baik." "Dan mungkin terdengar aneh." "Baik." Kayra mengernyit. "Mas kok bilang baik terus?" Naufal tersenyum. "Karena saya belum tahu mau menolak yang mana." Kayra langsung terdiam. Oke. Ternyata ustadz ini bisa bercanda. Berbahaya. Orang tenang yang ternyata lucu biasanya jauh lebih berbahaya daripada komedian. Mereka menyerang saat kita lengah. Kayra kembali menarik napas. Ayo. Sekarang atau tidak sama sekali. Kayra tertawa gugup. Lalu menarik napas panjang. Sekarang atau tidak sama sekali. "Saya langsung ke intinya saja." "Baik." "Saya punya sebuah ide." "Baik." "Dan mungkin terdengar aneh." "Baik." Kayra mengernyit. "Masnya kok terus bilang baik lagi ya?" Naufal terlihat berpikir. "oke...." "Mmm...itu..." "Kenapa?" "Itu sama aja dengan baik." Naufal tersenyum lagi. Kayra menelan ludah. Lalu berkata, "Bagaimana kalau kita menikah kontrak?" krik krik krik... Ruangan langsung hening. Sangat hening. Bahkan jam dinding seolah ikut berhenti bekerja. Naufal tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang Kayra. Sementara Kayra mulai menyesali semua keputusan hidup yang membawanya ke titik ini. Akhirnya Naufal membuka mulut. "Kalau nikah kontrak tidak bisa." Kayra langsung mengembuskan napas. Entah kenapa dia merasa lega. Malu. Tapi lega. Setidaknya dia tidak perlu menjelaskan ide bodoh ini lebih jauh. Namun sebelum dia sempat berkata apa-apa lagi, Naufal melanjutkan kalimatnya. "Karena nikah kontrak itu haram, tapi kalau nikah sungguhan saya bersedia." "hah?.... " Keyra langusng merasa otaknya agak konslet. Bersambung bab 2....

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
781.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
371.0K
bc

Not just, the Beta

read
355.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook