14. Saved by Papi Arya

1354 Kata
"Gelisah banget sih, lu, Nyet." Axelle menepuk pundak Byantara. "Masih lama gak, sih?" Bukannya menjelaskan, Byantara malah balik bertanya. "Ya elah, acaranya juga baru mulai. Emang lu mau kemana lagi?" Axelle mengernyit heran. "Gak ada sih, mau pulang aja." Byantara melirik jam di tangannya, sudah pukul 15.25 sudah lebih satu jam dari waktu yang ia janjikan pada Aysha. "Tumben, lu mo cepat-cepat pulang. Bintang tamunya bahkan belum nongol." Axelle menyesap minuman sodanya. "Lu gakpapa kan, kalau gue balik duluan? Ada Radhit juga ama Keenan." Byantara benar-benar tak bisa lagi menahan pantatnya untuk tinggal lebih lama. "Ya gakpapa, terserah lu aja. Naik apa?" "Gue order ojek online aja." Axelle benar-benar penasaran dengan alasan Byantara tapi tak ingin dibilang kepo, akhirnya membiarkan sahabatnya itu pulang. "Kok pulang?" Radhit bertanya saat Byantara pamit pada teman-temannya yang lain. "Ada perlu mendadak, gue. Jalan duluan ya." Ucapnya tergesa-gesa. "Seingat gue, kemarin dia yang ajakin kita ke sini. Sekarang malah dia yang cabut duluan. Yak bener otaknya tu anak." Kenan terkekeh. Byantara senang ojek panggilannya telah menantinya begitu ia keluar dari kafe. Kafe yang hari ini kedatangan tamu Grup Band Noah membuat suasana cukup padat sehingga tak semudah itu untuk mencapai pintu keluar dari posisi meja mereka yang di pojokan dalam. "Ish! Udah jam empat aja," dumelnya pelan sambil buru-buru memasuki rumah yang pintunya memang sengaja dibiarkan terbuka karena keluarganya masih berkumpul. "Eh! Byan, tumben masih terang udah pulang?" Sheila yang melihat anaknya muncul di ruang makan menatapnya tak percaya. Demikian juga dengan papa, Arya dan kakeknya yang kebetulan sedang ngobrol sambil ngopi bareng. Arya terkekeh, suami Danisha itu tentu paham apa yang membuat anak sulung Damar ini bisa pulang cepat hari ini. Memberi kode dengan matanya, Arya menyampaikan, bahwa Aysha dan anak-anak lainnya tengah bermain di taman samping. Berdehem melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering, Byantara mengambil kursi di samping Arya yang posisi duduknya menghadap ke taman. "Nonton Noah-nya gak jadi?" Damar penasaran. "Ha? Mm ...," Byantara bingung harus menjawab apa. Menelan salivanya susah payah. "Oh, anu, Axelle buru-buru mau pulang dipanggil Mamanya. Ya udah aku ikut pulang, maleskan kalau sendirian." Jawaban yang cukup meyakinkan untuk sang papa. Damar hanya mendengus pelan, tak percaya 100% tapi enggan berdebat, karena Byantara bisa pulang lebih cepat, tentunya lebih bagus. Mencuri pandang sesekali ke arah Aysha yang sedang bermain kejar tangkap dengan Andin, Darla dan Restu. Sedikit kesal terhadap Restu, adiknya yang seenaknya saja menangkap Aysha dan memeluk pinggang gadis itu sambil tertawa-tawa. Tampak begitu akrab bagai teman lama. Sementara Byantara sendiri yakin bahwa ini kali pertama Restu dan Aysha bertemu. Usia Aysha dengan Restu hanya terpaut beberapa bulan, jadi mereka seumuran dan sama-sama berada di kelas X. Tidak menutup kemungkinan jika Restu sang bad boy dalam keluarga mengincar Aysha. Kemungkinan itu tentu sangat meresahkan jiwa Byantara mengingat Restu sejak SMP sudah berpengalaman berkali kali menembak cewek. Berbanding terbalik dengan dirinya yang belum pernah sekalipun merasakan jatuh hati dengan perempuan. Seketika terdengar teriakan melengking Darla yang memekik kesal. Semua yang terbiasa dengan suara itu hanya mengelus d**a dan menggosok telinga. Siapa lagi biang keroknya jika bukan Restu. Benar saja, tak lama Darla tampak bergegas memasuki rumah dengan muka merah menahan tangis. Gadis kecil berusia sebelas tahun itu akan mengadu pada Damar, karena Restu hanya akan gentar dengan ancaman sang papa dibanding Danisha atau yang lainnya. Pukul empat lewat, Byantara memainkan ponselnya dengan gelisah. Ingin rasanya menyusul Restu dan yang lainnya ke taman kemudian modusin Aysha hingga gadis itu merajuk kesal. Namun gengsinya masih tinggi, ia tak ingin ketahuan papanya, kakek dan Arya bahwa tujuannya pulang lebih cepat adalah karena ada Aysha di rumah. "Sha, makaroninya masih ada sisa, gak?" Teriak pelan Damar pada Danisha yang mengobrol di ruang keluarga. "Ada," Sheila menjawab Damar. "Biar mbak aja yang ambilin." Ucapnya kini pada Danisha. Sheila membawa dua piring kecil berisi potongan makaroni, untuk Damar dan untuk Byantara. "Enak, Ma." Komentar Byantara pada suapan pertamanya. "Aysha yang bikin." Sheila tersenyum, menunggu reaksi Byantara. Byantara menaikkan alisnya. "Paling juga Ibuk yang bikin." "Siapa ibuk?" Damar menoleh pada sang anak. "Tante Ara. Kan, Aysha panggilnya Ibuk," Jawab Byantara santai. "Kamu udah pernah ketemu?" "Udah, dua kali, ama Om Sam juga." Jawabnya masih dengan nada santai. "Cantik, kan, Tante Ara?" Kali ini Sheila yang bertanya. "Cantik lah, semua ibu-ibu cantik." "Pinter," sela Damar cepat. Ia memicing matanya pada Sheila, yang jelas sekali akan menggodanya tentang masa lalunya dengan Ara. Sheila terkikik pelan. "Tapi ini beneran Aysha yang bikin, tadi dia sendiri yang cerita, karena Ibunya pagi-pagi udah harus berangkat ikut antar pengantin nikahan atau apa tadi, gitu. Jadi gak sempat bebikinan dulu." Cerita sang mama kembali ke topik makaroni. "Hmm," Byantara mengangguk saja dan menghabiskan sisa makaroni di piringnya. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya dari keluarganya terutama sang papa dan Denisha, malas rasanya dikomentari. Aysha dan Andin tampak berjalan berbarengan memasuki ruang makan, disusul Restu dibelakangnya yang tampak sudah berbaikan lagi dengan Darla. "Haus Pi, ada minuman apa?" Andin mendekati Arya. Aysha yang baru sadar kalau Byantara sudah berada di rumah menghindari meja makan. Memilih menuju ke arah dapur menemui Danisha. "Aunty, haus." Rengek Aysha pada Danisha yang memang manja sedari kecil pada para sahabat ibunya. "Eh, udah selesai mainnya. Ini nih, Aunty bikinin es teh manis untuk semua, kamu bawain ke ruang makan, bisa? Biar Aunty potong-potong cemilannya dulu." "Bisa, Aunt. Sini Aya yang bawain." "Sini gue yang bawa." Suara Byantara yang ternyata telah berdiri di belakangnya. Aysha yang terkejut menoleh ke arah suara. "Gak apa-apa, gue bisa kok." "Berat itu, tekonya aja gede gitu." Danisha yang melihat dan mendengar perdebatan media remaja itu terkekeh pelan. "Ya udah, bagi dua aja, Aya bawa baki gelas, Byan bawa tekonya." Aysha akhirnya setuju dengan keputusan Danisha, ia menerima baki gelas yang telah disiapkan tadi, namun kali ini tekonya di serahkan pada Byantara. "Gitu dong, calon pacar harus siaga." Ucap Danisha sambil menyerahkan teko ke tangan Byantara. Ucapannya pelan, Byantara tak yakin Aysha mendengarnya atau tidak karena sudah melangkah lebih dulu. "Mami apaan sih!" Byantara mendengus. Sementara Danisha terkikik puas. Ini nih, kebiasaan Danisha yang begini yang bikin dia kesal dulu, hobi banget ngegodain dirinya dan Aysha. Dulu Byantara memang marah karena malu diledekin, sekarang sih, dia bisa acuh, tapi belum tentu dengan Aysha. Dulu Aysha mungkin belum paham ledekan Danisha tapi sekarang pasti udah ngerti banget maksud dan tujuannya. Bagaimana kalau Aysha malu, kemudian ilfil dan akhirnya menjauh, kan, Byantara yang repot. Byantara melirik jam tangannya, kemudian meraih ponselnya. 'Pulang jam berapa?' Ponsel di saku celana Aysha bergetar. Ia meraihnya dan menemukan notif pesan masuk dari nomor yang tak ia kenal. 'Siapa nih?' 'Ya elaah! Lu gak nyimpan nomor gue?' 'Kalau nyimpan, gue gak bakal nanya lagi.' 'Gue, Byantara Abinaya. Simpan! Jangan sampe enggak.' Aysha memanyunkan bibirnya sesaat, kemudian melirik sesaat pada Byantara yang duduk di seberangnya. Byantara yang juga tengah menoleh Aysha terkekeh pelan. 'Jadi, lu janji pulang jam berapa? Dijemput atau diantar?' Ketiknya lagi. 'Janji sama ayah, sebelum maghrib. Tadi kata ayah terserah, kalau gak ada yang antar, gue disuruh kabari ayah.' 'Sekarang aja yuk, gue antar.' Aysha melihat jam di layar ponsel. 17.14 wib, waktunya yang pas kalau dia izin pulang. 'Terserah. Bilang gih, ama Aunty Danisha.' Byantara mendengus, ini bagian ribetnya. Menguatkan mental terlebih dahulu sebelum menerima ledekan dari Danisha. "By, anterin Aya, gih. Udah dekat maghrib!" Suara Arya mengejutkan Byantara. Sekalian dengan kunci mobil yang menggantung di depan wajahnya. Dengan perasaan lega luar biasa, Byantara menyambut uluran kunci mobil dengan wajah sumringah. Danisha yang mendengar perintah Arya pada Byantara datang menghampiri. "Diantar langsung, By. Jangan dibawa muter-muter lagi, anak gadis orang." Tuh, kan! "Iya!" Jawabnya kesal. "Langsung pulang, jangan kelayapan lagi." Ucap Damar tertuju pada Byantara saat Aysha menyalami tangannya untuk pamit. "Salam untuk ibu dan ayah, ya." Ucap Sheila kemudian yang diangguki Aysha dan tersenyum. "Aya, pulang duluan ya, Om." Pamit Aysha pada Arya. "Salam untuk ayah, ya." Jawab Arya sambil mengiringi mereka ke tempat mobil Arya terparkir. "Capek papi lihat kalian chatingan terus padahal duduknya depan-depanan. Puas-puasin ngobrol di mobil, ya." Arya mengedipkan matanya pada Byantara. Byantara tergelak, karena kegiatannya dengan Aysha tadi ternyata terciduk Arya. Sementara Aysha pipinya memerah dengan bibir yang mengerucut. . . Komen yuuk.. sayang kalian, luv, luv, luv..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN