"Langsung pulang?"
"Ha? I-iya." Aysha menjawab gugup. Walau pernah berboncengan dua kali ternyata tak membuat jantungnya jadi biasa saja jika berduaan dengan Byantara.
Demikian juga dengan Byantara. Namun dalam hal ini dirinya lebih ahli mengontrol diri, hanya saja matanya sesekali melirik ke arah Aysha yang mendadak jadi pendiam.
"Diem aja?"
"Ha?"
"Kenapa diem aja, biasanya bawel."
"Kapan aku bawel?"
Byantara mengedikkan bahunya sebagai sahutan.
"Mmm ..., di depan tuh ada yang jual es kelapa muda, mau mampir gak?" Susah payah Biyantara memulai obrolan.
"Mau beli?" Aysha balas bertanya.
"Kalau kamu mau."
Aysha menaikkan alisnya, menoleh sesaat pada Byantara yang masih serius menatap jalan. 'Kamu?'
Aysha melirik jam di tangannya, hampir pukul lima. Kalau mampir dan minum di tempat, bakalan lewat maghrib baru sampai rumah, tapi kalau mampir beli untuk dibawa pulang, masih ada waktu sih.
"Bawa pulang aja ya, tapi tanya ibuk dulu deh, mau juga atau enggak." Aysha berkata sambil mencari ponsel di tas selempangnya.
"Udah, beliin aja untuk ayah sama ibuk, gak usah pake nanya kali." Saran Byantara sambil mengarahkan mobilnya mencari parkiran.
Aysha tak menghiraukan Byantara, ia telah tersambung dengan Ara, sang ibu.
"Assalamualaikum, Bu. Dimana, kok berisik?"
"Waalaikumusalam, Ibu di kafe sama ayah, sama adek-adek, kamu dimana?"
"Lah, terus Aya kemana? Aya di jalan mau pulang, nih."
"Terserah, di rumah ada bibik kok. Kamu pulang diantar siapa?"
"Sama Kak Byan, Bu."
"Naik apa?" Suara Ara terdengar berbisik.
"Pake mobil Om Arya." Aysha terkekeh sambil menjawab, ia tahu kekhawatiran ibunya.
"Ah, Alhamdulillah. Kalau naik motor jangan sampai ketahuan ayah." Bisik Ara lagi di telepon.
"Aya juga gak mau kali, Bu." Jawabnya sambil melirik ke arah Byantara. "By the way, Buk, ini kami mau mampir beli es kelapa muda, ibuk mau?"
"Eh, Mau dong! Yang beneran muda ya, dagingnya masih lembut. Dua ya, Ya, ayah pasti mau juga."
"Ya udah, ntar dibeliin deh. Ini berarti Aya langsung ke kafe, ya, Bu. Assalamualaikum."
---
"Kenapa sih Ayah kamu, gak suka banget dengan motor?"
Aysha kembali berjengit dengan kata kamu yang digunakan Byantara. Tapi kembali Aysha tak ingin menanggapi.
"Gue pernah hampir kecelakaan waktu kecil, pas diboncengin keliling komplek ama sopir. Jadinya ayah trauma, deh."
"Padahal aku sukanya naik motor."
Lagi-lagi Aysha menoleh curiga pada Byantara. 'Hubungannya lo suka naik motor sama larangan bokap gue, apa?'
Byantara menghentikan kendaraannya tepat di sebelah kiosk penjual kelapa muda.
"Kamu dua porsi aja, cukup?"
Aysha mengangguk sebagai jawaban, ia masih terhenyak dengan kata kamu yang berkali-kali digunakan Byantara.
Tak sampai sepuluh menit Byantara telah kembali dengan empat cup air kelapa muda. Menyerahkannya pada Aysha yang kemudian diletakkan Aysha di kaki kursi penumpang tepat di belakang kursi Byantara.
Gerakan Aysha itu ternyata membuat tubuhnya harus sedikit condong ke arah Byantara. Posisi yang berdekatan itu membuat keduanya bisa mencium wangi parfum masing-masing dari jarak yang cukup dekat. Aysha awalnya tak menyadari, ia masih sibuk memastikan posisi cup-cup minuman itu tidak miring, walau tak akan tumpah karena tutup cup-nya menggunakan sealer.
Namun ia seketika berjengit kaget saat Byantara mendehem dekat dengan telinganya dan ia segera bergeser dan kembali duduk dengan benar di kursinya.
"Ehem." Byantara seolah membersihkan tenggorokannya yang tadi tiba-tiba terasa tercekat. "Ini kita ke mana jadinya?"
"Ke Kafe aja, Ayah sama Ibuk di sana." Aysha kemudian menyebutkan nama jalan dan lokasi di mana kafe ayahnya berada.
Selanjutnya keduanya kembali diam. Bingung mau bicara apa, padahal ini bukan kali pertama Aysha dan Byantara berduaan, mereka pernah jalan ke mall waktu itu.
Yang terbiasa berisik pun akhirnya menyerah.
"Gue nyalain radio, ya." Aysha memencet tombol On pada perangkat audio dan mulai mencari siaran yang memutar musik.
"Kamu suka nyanyi, ya?" Byantara bertanya saat mendengar Aysha bersenandung pelan mengikuti lagu yang sedang diputar.
"Ha? Eh." Aysha seketika menghentikan nyanyiannya.
"Suara kamu bagus, kok." Puji Byantara jujur.
Aysha kembali merasa aneh, Byantara dengan kelakuannya yang sok manis begini, rasanya bukan Byantara sekali.
"Wait, deh! Kenapa sih manggilnya jadi kamu-kamu, gitu?" Aysha tak tahan lagi untuk tak bertanya.
Byantara menoleh singkat pada Aysha sebelum kembali fokus pada jalan raya di depannya.
"Gak boleh?"
"Ck, aneh aja. Kan, biasanya juga lu-gue, kenapa mendadak jadi kamu-aku." Aysha dengan pipi merah memalingkan wajahnya menatap pejalan kaki melalui jendela di sampingnya.
"Radhitya manggil kamu, gak di protes. Giliran aku, ditanya." Byantara mendengkus pelan.
Aysha mengerutkan keningnya, menoleh pada Byantara. Kemudian mengingat-ingat panggilan Radhitya padanya. 'Aah!' Aysha menyadarinya. Ia menggaruk pelan pelipisnya yang tak gatal.
"Tapi_"
"Tapi apa?" Potong Byantara tak sabar.
'Tapi, kalau Radhitya yang manggil pake kata kamu, aku gak sebaper kalau kamu yang panggil!' Jawab Aysha dalam hati.
"Tapi gue gak pernah nyahutin dia dengan aku-kamu juga."
Byantara mengedikkan bahunya. "Yang pasti kamu gak protes." Jawabnya tak terbantahkan.
"Ck, terserah deh." Aysha kembali merona, menyembunyikan pipi merahnya dengan kembali menoleh ke arah jendela samping.
"Di Surabaya gak menggunakan kata lu-gue dalam percakapan sehari-hari, jadi sebenarnya aku kurang nyaman menggunakan kata itu. So, kalau kamu gak keberatan, aku lebih suka kalau kita saling sapa dengan aku-kamu."
"Tapi di sini, itu kayak orang pacaran," Cicit Aysha salah tingkah, tanpa berani menoleh ke arah Byantara.
Walau pelan, nyatanya Byantara mendengar ucapan Aysha. Tersenyum, ia menoleh ke arah Aysha yang tengah menghindar berkontak pandang dengan dirinya. 'Ya udah, sih. Kita pacaran aja!' Tentu saja itu cuma kalimat yang Byantara ucapkan dalam hati.
"Ya terserah sih, kalau kamu gak mau. Tapi aku akan tetap pakai."
Aysha masih diam tak tau harus bereaksi apa, hingga akhirnya mereka sampai di kafe tempat ibu dan ayah Aysha berada.
"Es kelapanya biar aku yang bawa." Ucap Byantara saat Aysha hendak meraih bungkusan plastik di belakang kursi.
Aysha mengangguk dan kemudian turun dari mobil dan menunggu Byantara di pintu masuk kafe agar masuk bersamaan.
Dari luar, kafe yang berdinding kaca bening transparan itu tampak cukup ramai.
"Yuk." Ucap singkat Byantara sambil mendorong pintu kafe agar terbuka dan mempersilakan Aysha masuk lebih dulu.
"Sore, Mbak Aysha." Sambut ramah salah seorang karyawan kafe yang tentu saja mengenal Aysha sebagai putri sulung pemilik kafe.
"Sore juga, Mbak." Aysha memberinya senyum.
"Ayah di meja sebelah mana?" Tanya Aysha kemudian, sambil memindai ruangan mencari posisi keluarganya.
"Itu, Mbak." Tunjuk Mbak karyawan ke arah salah satu meja yang berada dekat dengan panggung mini.
"Oh, iya, udah kelihatan. Makasi yaa."
Aysha kemudian menoleh pada Byantara yang berdiri di belakangnya, memberi isyarat mengajaknya melanjutkan langkah menuju meja tempat keluarganya berada.
Suasana kafe di hari minggu yang biasanya memang ramai, hari ini menjadi bertambah ramai karena ada tamu yang sedang merayakan ulang tahun dan sengaja memesan ruangan depan khusus untuk acara mereka.
Beberapa anak-anak usia enam hingga delapan tahun tampak berlari-lari di antara kursi. Sedikit sulit untuk melewati kepadatan dan sela-sela kursi yang susunannya sudah tak beraturan karena anak-anak yang tengah bermain.
Melihat hal tersebut, akhirnya Byantara berinisiatif untuk mengambil jalan melalui sela kursi tamu yang lain. Meraih lengan Aysha dan menggenggam jemarinya agar mengikutinya. "Lewat sini!"
Aysha mengikuti dengan patuh tanpa menyadari tautan tangan mereka, seolah itu hal yang biasa mereka lakukan.
"Ibuk." Sapa Aysha begitu mereka mendekati meja keluarganya.
"Hai, udah sampe." Sambut Ara dengan senyum.
Aysha mendekat dan mencium pipi Ara.
"Byan," sapa Ara kemudian pada Byan.
Byantara meletakkan bungkusan es kelapa di atas meja sebelum menyalami Ara, mencium punggung tangannya.
Aysha kemudian bergeser ke arah Samudra yang duduk di samping Ara. Sang ayah tampak memandangi mereka dengan alis yang terangkat sebelah. Aysha mengerutkan keningnya melihat raut wajah ayahnya.
'What?' Ekspresi wajah Aysha seolah bertanya.
Aysha yang merasa heran mengikuti arah pandang sang ayah.
"Astaghfirullah!"
.
.
.
komen yuuk ^_^