"Hey, Bul! Kenapa diam saja? Kamu tidak mendengar saya berbicara?" tanya seorang pria bernama lengkap George Fergus, pria berusia tiga puluh tiga tahun yang menjadi CEO di tempat Bulan bekerja.
"Baik, Pak, setengah jam lagi saya sampai di kantor," jawab Bulan sedikit kesal, akan tetapi ia masih menjaga nada bicaranya, walau bagaimanapun saat ini ia sedang berbicara dengan atasannya.
"Setengah jam terlalu lama, Bul. Saya sampai kantor dua puluh lima menit lagi, usahakan sebelum itu kamu sudah ada di kantor!" tegas pria itu lagi yang membuat Bulan refleks mengepalkan tangannya.
Namun, ia langsung mengelus d**a untuk menebalkan kesabarannya.
Bosnya itu memang agak resek.
"Baik, Pak. Saya siap-siap dulu!" Setelah itu, Bulan mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Awas aja ya, Pak Geo, sebentar lagi aku akan resign dari kantormu. Dasar bos ngeselin! Pokoknya setelah Mas Noah melamarku, aku akan langsung feriper untuk resign, setelah aku dan Mas Noah menikah, aku akan langsung keluar dari sana. Aku akan ikut bersama dengan suamiku. Bay Pak Geo yang resek, selamat mencari sekretaris baru," geturu Bulan sendiri sambil berpakaian.
Sepertinya ia tidak akan sempat memoles wajahnya terlebih dahulu, karena perjalanan dari rumahnya ke kantor saja memakan waktu kurang lebih dua puluh menit, itupun jika tidak terjebak macet.
Bulan hanya menyusur rambutnya sebentar agar tidak terlalu acak-acakan, setelah itu ia menyemprotkan parfum ke beberapa titik pada tubuh dan pakaiannya.
Ia memasukkan tas makeup ke dalam hand bag yang berukuran cukup besar.
"Jangan lupa bawa tas segede gaban buat menampung omongannya Pak Geo. Kayaknya tuh orang akibat kelamaan ngejomblo, gak punya some one to talk, jadi apa-apa diluapin ke gue. Sampe gumoh gue denger omongannya tiap hari," gerutu wanita itu lagi seraya memasukkan semua perlengkapannya ke dalam hand bag berwarna mahogany itu.
Bulan mengambil kunci mobil dan buru-buru keluar dari kamar, ia akan makeup di kantor saja, yang penting ia sudah berada di kantor ketika bosnya tiba.
"Ibuk, aku berangkat dulu!" pamit wanita itu sedikit berteriak, karena ibunya sedang berada di ruang makan.
Saat ini Bulan hanya tinggal berdua bersama ibunya, karena bapaknya sudah lama meninggal dan kakak laki-lakinya sudah menikah.
"Gak sarapan dulu? Ini Ibuk sudah siapkan lontong sayur buat sarapan, ini Ibuk buat sendiri dari subuh," ucap wanita paruh baya seraya berjalan dengan cepat ke arah putrinya.
Mendengar ucapan ibunya barusan, bulan menjadi tidak tega, ibunya sudah se-effort itu menyiapkan sarapan untuknya.
Tapi, mau bagaimana lagi, daripada ia kena khutbah dari bosnya, lebih baik ia langsung berangkat saja. Bulan rasa, ia bisa makan nanti setelah pulang.
"Gak keburu, Buk. Ini aku udah diteror bos. Lontong sayurnya masukin kulkas aja ya, Buk. Nanti Bulan makan kalau udah pulang. Oh iya, nanti sore aku mau jemput Mas Noah dulu ke Bandara, calon suamiku mau pulang dari Jepang, Buk. Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum."
Bulan mencium punggung tangan ibunya, wanita itu buru-buru keluar dari rumah bahkan sebelum ibunya berbicara.
Wanita itu masuk ke dalam mobil miliknya dan segera meluncur menuju kantor.
Sepanjang perjalanan, Bulan berdoa agar tidak macet, ia takut datang terlambat.
Dan tepat tiga menit lagi genap dua puluh, roda empatnya sudah berhenti di parkiran sebuah perusahaan.
Bulan membuang nafas kasar, ia tiba sebelum terlambat.
Untung saja tadi di jalan tidak begitu ramai dan ia bisa membawa mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi sehingga bisa tiba tepat waktu.
Wanita itu buru-buru masuk, tujuan utamanya adalah lift, ia akan naik ke lantai sepuluh, dimana ruangan dirinya berada.
"Gedebag-gedebug banget hidup gue. Padahal cita-cita mau slow Living. Sabar, Bulan, setelah menikah dengan Mas Gama, kamu bisa menikmati masa-masa rebahan sambil scroll tik tok. Sebentar lagi, Bulan ... sebentar lagi," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Ia masuk ke dalam ruangannya, baru saja ia akan meletakkan tas, tapi ponselnya sudah berbunyi, ada sebuah pesan keramat masuk.
(Saya sudah di lift, sambut saya sekarang).
Pesan itu dikirim oleh bosnya.
"Kumat main raja-rajaan," geturu Bulan kembali, ia sampai tak jadi meletakkan tasnya.
Wanita itu setengah berlari keluar dari ruangan dan menuju lift.
Bulan sampai ngos-ngosan, untung saja kakinya yang memakai heels tidak sampai terkilir.
"Selamat pagi, Pak!" ucapnya seraya sedikit menunduk ketika memberikan sambutan kepada seorang pria bertubuh tinggi dan tegap yang baru saja keluar dari lift.
Pria itu melepas kacamata hitam yang dikenakannya dan langsung menyerahkan kepada Bulan.
Bulan sudah tak heran lagi dengan tingkah random bosnya.
Mungkin hal itu juga yang membuat pria tersebut tak kunjung menikah, karena tingkahnya yang sangat susah ditebak seperti itu.
"Bawa kacamata saya sampai ke ruangan!" titahnya dengan tegas seolah memerintah untuk membawa barang peninggalan sejarah.
"Baik, Pak!" Bulan menurut patuh, meskipun di dalam hatinya ia menggerutu.
George berjalan dengan langkah lebar menuju ruangannya, dengan langkah cepat Bulan mengikuti pria itu dari belakang sampai masuk ke dalam sebuah ruangan luas.
Karena ia mendapat tugas untuk membawa kacamata hitam milik bosnya itu sampai ke meja kekuasaan.
"Ini kacamatanya, Pak. Saya pamit ke ruangan saya dulu untuk makeup sebentar, sebelum meeting dimulai," ucap Bulan seraya meletakkan kacamata hitam itu di atas meja dengan sangat hati-hati.
"Makeup di sini saja!" titah George sambil menunjuk ke arah kursi di hadapannya.
"Tapi, Pak ...."
"Pilih makeup di sini atau pergi meeting tanpa makeup?" Pria itu menatap Bulan sambil mengangkat alisnya sebelah.
"Matilah aku meeting tanpa makeup." Bulan ingin sekali berkata kasar.
"Cepat duduk! Beberapa menit lagi kita ke ruangan meeting!" George duduk di atas kursi kebesarannya sambil bertumpang kaki.
Bulan berusaha menahan diri agar tidak emosi, mau tidak mau ia menuruti perintah absrud bosnya.
Bulan duduk pada kursi yang berada di hadapan Geo, ia mulai membuka tasnya dan mengeluarkan tas makeup.
Ia cuek saja meskipun Bulan tahu pria itu sedang memperhatikannya, akan tetapi ia berpura-pura tidak menyadari saja sambil memakai bedak dan lipstik.
Hingga tiba-tiba ia tak sengaja menangkap Geo sedang mengarahkan kamera ponsel padanya.
"Bapak memfoto saya?" tanya Bulan sambil menatap ke arah pria itu.
"Iya," jawabnya singkat seolah tanpa dosa.
"Buat apa, Pak? Jangan aneh-aneh!" bantah Bulan.
"Buat dimasukkan ke grup keluarga," jawabnya kembali yang terdengar tidak masuk akal.
Kesabaran Bulan benar-benar diuji, bukan diuji karena pekerjaannya yang sulit, akan tetapi justru ia diuji oleh tingkah bosnya yang terkadang seperti toodler.
Setelah selesai makeup, Bulan dan George langsung menuju ruang meeting, karena di sana mereka juga sudah ditunggu oleh beberapa orang.
Namun, sebelum itu, Bulan mendapat pesan dari seseorang yang membuat bibirnya langsung tersenyum merekah.
(Sayang, aku bentar lagi naik pesawat. Sebentar lagi kita bertemu, Sayang. Jangan lupa nanti peluk dan kiss aku ya).
Pesan itu diiringi dengan sebuah foto.
Noah telah mengirimkan foto dirinya yang berdiri di dekat pesawat.
Baru juga Bulan akan membalas pesan itu, tiba-tiba ponselnya dirampas oleh seseorang.