Rencana Bertemu
"Halo, Sayang!" ucap seorang pria di sebrang telepon, suara itu mampu membuat bibir seorang perempuan yang sedang menatap layar ponselnya langsung tersenyum merekah.
Ia menatap wajah kekasihnya yang muncul pada layar ponsel ketika mereka melakukan panggilan video call.
Wanita itu bernama Bulan Rinjani, berusia dua puluh lima tahun. Bulan memiliki tinggi badan sekitar seratus enam puluh sentimeter dan berat badan lima puluh kilogram, bentuk tubuh yang ideal terlebih lagi dipadukan dengan wajahnya yang cantik dan juga manis, serta rambut hitam lurus hampir menyentuh pinggang.
Pantas saja, kekasihnya yang bernama Noah Hudson Jasper itu rela pulang dari Jepang untuk menemuinya.
"Halo juga, Mas!" balas Bulan seraya melambaikan tangannya.
Wanita yang kini sedang bekerja sebagai sekretaris di perusahaan ternama itu tentu saja sangat bahagia setelah mendengar kekasihnya akan pulang ke Indonesia.
Penantian yang panjang selama tiga tahun, akhirnya akan berakhir besok.
Ya, Bulan dan Noah sudah menjalin hubungan selama tiga tahun, akan tetapi selama tiga tahun itu mereka menjalin hubungan jarak jauh, karena Noah sedang terikat kontrak dengan perusahaan Jepang.
Terakhir mereka bertemu, satu hari sebelum Noah berangkat ke Jepang tiga tahun yang lalu.
Untungnya, sebelum Noah berangkat ke Jepang, mereka sempat saling bertukar nomor ponsel hingga terus terhubung sampai sekarang dan resmi menjalin hubungan.
"Kenapa belum tidur?" tanya pria bermata sipit dan berhidung mancung itu, ia menatap ke arah Bulan yang sudah mengenakan piyama tidur.
"Belum ngantuk," jawab Bulan yang diiringi dengan senyuman manis.
"Belum ngantuk atau memang kamu tidak sabar menunggu aku pulang, hmmm?" Noah mengangkat alisnya sebelah, ia menggoda kekasihnya.
"Dua-duanya." Bulan terkekeh pelan untuk menutupi kebahagiaan yang luar biasa.
Besok adalah pertemuan pertama mereka setelah LDR selama tiga tahun dan selama mereka menjalin hubungan.
"Kamu gak sabar, apalagi aku. Aku gak sabar mau bertemu kamu, aku akan melamarmu dan menikahi kamu. Aku cuma diberi cuti selama satu bulan, jadi selama satu bulan itu aku mau kita menyelesaikan semuanya sampai sah menikah. Aku tidak akan melepaskan kamu, Sayang."
Noah menatap penuh cinta, bahkan mungkin jika mereka berdekatan, ia sudah memeluk wanita itu dengan erat.
"Iya, Mas, aku tunggu kamu ya. Besok aku jemput kamu di bandara." Binar bahagia terlihat nyata pada kedua mata indah milik Bulan.
"Oke, Sayang. Sekarang kamu tidur dulu ya, aku mau lanjut packing sebelum besok pagi berangkat ke bandara."
Noah mengarahkan kamera ponselnya pada tumpukan barang yang akan ia bawa, pria itu menunjukkan barang-barang tersebut kepada Bulan.
"Itu apa, Mas?" tanya Bulan ketika ia tak sengaja melihat sebuah kotak kecil berwarna merah di atas kasur.
"Kamu mau tahu itu apa?" Noah mengambil benda teras.
Bulan langsung mengangguk sebagai jawaban.
"Hmmm ... Ini adalah alat pengikat untuk calon istriku biar gak lepas." Noah membuka kotak tersebut, kedua mata Bulan terbuka lebar saat ia melihat sebuah cincin berlian yang begitu cantik.
"Itu buat aku, Mas?" tanya bulan refleks, karena saking bahagianya, ia sampai tidak bisa mengontrol diri.
"Iya dong, buat siapa lagi? Semoga cincinnya muat ya di jari manis kamu. Nanti kalau aku udah pasangkan cincin ini di jari kamu, langsung kasih aku reward pelukan sama kiss ya," pinta Noah yang membuat Bulan semakin salah tingkah.
Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu sudah lama menabung untuk membeli cincin berlian yang akan ia berikan pada kekasihnya disaat melamar wanita itu.
Dan sebentar lagi waktu itu akan segera teiba, ia sudah tak sabar untuk segera menemui wanita yang selama tiga tahun ini meratui hatinya.
"Iya, Mas." Bulan mengangguk dengan malu-malu.
"Sebentar lagi, rindu ini akan menjadi temu. Kita akan duduk tanpa jarak, aku si pendengar dan kamu si pencerita. Nanti kita kisahkan perjalanan indah ini diiringi dialog hangat pengantar tidur. Selamat beristirahat, Bulan-ku, esok adalah hari pertemuan kita," tutur Noah dengan sangat indah.
"Iya, Mas, kamu juga istirahat dan tidur ya. Love you Mas Noah." Setelah mengatakan itu, Bulan mematikan sambungan video tersebut secara sepihak tanpa menunggu Noah membalas ucapannya.
Ia sapah tingkah sendiri, bahkan kini Bulan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan memeluk guling.
Ia menyembunyikan wajahnya pada guling tersebut karena merasa malu sendiri, ia merasa seperti sedang diperhatikan oleh Noah, padahal pria itu masih berada di negara sebrang.
Bulan memejamkan kedua matanya, ia membayangkan pertemuan mereka yang sangat indah, sampai akhirnya ia terlelap ke alam mimpi.
Bulan tidur sambil membawa bayang-bayang Noah yang bagaikan berada di pelupuk matanya.
***
Malam telah berlaku, Bulan terbangun disaat alarmnya berbunyi.
"Ah, kirain tadi nyata, tahunya cuma mimpi. Aku bertemu Mas Noah, dia menggenggam tanganku tapi kok setelah itu ...."
Bulan tak melanjutkan ucapannya, ia berusaha mengingat mimpinya dengan jelas, karena mimpinya langsung terputus ketika ia mendengar suara beker.
"Setelah itu kenapa Mas Gama kayak gak bisa melihat aku ya? Aku berteriak memanggilnya, tapi dia diam aja kayak gak melihat aku," gumam Bulan yang mulai mengingat semua isi mimpinya.
Tak ingin tersugesti oleh mimpinya yang kurang baik, Bulan lebih memilih untuk segera bangun dan menuju kamar mandi.
Hari ini ia akan tetap masuk kerja, karena bosnya tidak memberikan ia cuti walau hanya sehari saja.
Bulan keluar dari kamar mandi, ia langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Ada beberapa pesan yang masuk, akan tetapi hanya ada satu pesan yang membuatnya langsung tersenyum.
"Selamat pagi, Bulan-ku! Walaupun malam sudah selesai, tapi Bulan tetap menyinari hatiku. Hahaha ... Maaf ya, Sayang, pagi-pagi aku sudah random. Maklum, terlalu bahagia. Aku otw bandara dulu, Sayang. Maaf aku cuma kirim video ke kamu, karena aku buru-buru jadi gak sempat vc dulu sama calon istriku. Sampai bertemu bantu sore, Sayang!"
Untaian kalimat itu Noah ucapkan pada sebuah video yang ia kirim kepada Bulan.
Video dirinya yang sedang berjalan keluar dari rumah sambil mendorong koper besar. Terlihat di depan rumah itu ada sebuah mobil dengan bagasi yang sudah dibuka, karena Noah akan segera memasukkan kopernya ke dalam sana.
"Hati-hati, Mas, aku menunggumu!" Bulan membalas dengan pesan suara.
Setelah itu, ia meletakkan ponselnya kembali karena ia akan segera berpakaian.
Namun, baru juga bulan akan berjalan ke arah lemari pakaian, ponselnya kembali berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
Akan tetapi, kali ini panggilan masuk itu bukan dari kekasihnya, melainkan dari seseorang yang membuatnya harus segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo, Bul! Hari ini kamu jangan sampai datang terlambat ya, saya ada meeting pagi. Sebelum saya datang, kamu harus sudah ada di kantor!"
Bulan langsung membuang nafas kasar ketika mendengar ucapan bosnya.