“Oh ternyata Pak Tristan punya rasa takut. Kemarin-kemarin kayak orang yang nggak punya dosa, ya? Menjebak Revina, memanfaatkan aku, menjebak Hans pula. Ya ampun, kalau boleh jujur Pak Tristan itu ganteng, aku juga sempat jatuh hati dan berharap hubungan kita bukan pura-pura lagi, tapi beneran. Eh ternyata, kelakuan Pak Tristan berhasil bikin ilfeel. Aku sampai menyesal udah mengangumi Pak Tristan.” “Saya minta maaf. Saya tahu saya salah. Sekarang tolong lepaskan saya.” “Enak aja. Udah keterlaluan, masa dilepasin gitu aja.” “Terus kamu mau saya gimana?” “Coba nih. Minum ini dulu. Pak Tristan pasti haus, kan?” Tantika menyodorkan segelas air putih yang ada sedotannya agar memudahkan Tristan untuk meminumnya. Tristan tentu curiga. Minuman apa lagi kali ini? Karena ia yakin waktu di hala

