Marko berdiri di depan Hana dengan senyuman lebar ditampilkan oleh lelaki itu. Sambil menenteng sebuah brand dari salah satu makanan ternama di Ibu kota. “Abang Marko mau apa?” Tanha Hana, melirik paper bag yang berisi makanan. Membayangkan makanan itu saja, sudah membuat Hana merasa lapar dan ingin mencicipinya sekarang juga. Apalagi saat Marko, memberikan padanya detik ini juga. “Mau makan bersama?” Tawar lelaki itu, berharap Hana tidak akan menolak tawarannya. “Di ruanganku?” Tanyanya. Marko mengangguk. “Iya, di ruangan mu. Kau tidak mau?” Marko melunturkan senyumannya, tidak bisa untuk tetap tersenyum, ketika Hana yang terlihat tidak suka untuk makan bersama dengannya. Marko yang memiliki perasaan salah di sini. Terjebak dalam rasa terlarang yang tidak akan pernah dimiliki olehny

