Suasana ruang direksi masih terasa berat meski para pemegang saham dan Paman Hendra sudah meninggalkan ruangan itu. Adrian Nathaniel Wijaya tetap berdiri di depan jendela besar, menatap langit Jakarta yang mulai mendung. Tangannya masih terkepal longgar di samping tubuhnya, menahan sisa amarah yang belum sepenuhnya reda.
Pernikahan.
Kata itu terngiang-ngiang di kepalanya seperti vonis hukuman. Ia bukan pria yang percaya pada takdir yang dipaksakan, apalagi yang diatur oleh orang-orang yang hanya peduli pada saham perusahaan. Tapi ancaman Paman Hendra jelas: menikah atau kehilangan posisi CEO. Dan jika ia kehilangan posisi, Damien akan mengambil alih. Itu risiko yang tidak bisa ia ambil.
Adrian berbalik, berjalan menuju meja kerjanya yang masih berserakan dokumen. Ia menekan tombol interkom di meja.
"Ryan," suaranya datar, namun terdengar otoriter.
Beberapa detik kemudian, pintu ruangan terbuka. Ryan masuk dengan langkah cepat, membawa tablet dan wajah yang masih sedikit tegang usai kejadian di ruang interview tadi pagi.
"Ya, Pak Adrian?"
Adrian menatap asistennya tajam. "Wanita yang tanda tangan kontrak pagi ini. Di mana datanya?"
Ryan sedikit terkejut, tapi segera membuka tabletnya. "Karla Anindya, Pak. Usia 23 tahun. Lulusan baru. Alamat domisili di daerah Jakarta Selatan. Kos-kosan mahasiswa."
Adrian mengangguk pelan. Matanya menyipit. "Dia pikir ini kontrak magang, kan?"
Ryan menelan ludah. "Sepertinya iya, Pak. Saat itu situasinya sangat mendesak karena keluarga Bapak sudah menyiapkan notaris di ruangan sebelah. Saya... saya tidak sempat menjelaskan detailnya."
Adrian menghela napas panjang. Ia tidak bisa menyalahkan Ryan sepenuhnya. Ini adalah skenario yang dirancang oleh Paman Hendra untuk menjebaknya. Wanita itu hanya korban kesalahan administrasi yang dimanfaatkan oleh keluarga.
"Siapkan mobil," perintah Adrian tiba-tiba.
Ryan mengangkat alis. "Mobil jemputan, Pak? Untuk apa?"
"Jemput dia," jawab Adrian singkat. Ia mengambil jasnya yang tergantung di kursi, lalu mengenakannya dengan gerakan halus. "Bawa ke rumah utama. Malam ini."
"Pak?" Ryan terkejut. "Tapi... apakah tidak terlalu cepat? Maksud saya, secara teknis Bapak belum tanda tangan basah di catatan sipil. Kita masih bisa membatalkan.."
"Tidak bisa," potong Adrian. Ia berjalan menuju pintu, berhenti sejenak sebelum menoleh ke arah Ryan. "Notaris sudah cap basah. Kalau kita batalkan sekarang, akan jadi skandal. Investor akan bertanya-tanya. Aku tidak butuh rumor liar saat saham sedang naik."
Adrian melanjutkan langkahnya, suaranya rendah namun tegas.
"Lagipula, aku ingin melihat wajah wanita yang cukup nekat menandatangani kontrak pernikahan tanpa membaca isinya. Bawa dia ke sini. Sekarang."
Ryan hanya bisa mengangguk cepat. "Baik, Pak. Saya akan urus segera."
***
Sementara itu, di sebuah kos-kosan sederhana di daerah Jakarta Selatan, Karla Anindya sedang duduk bersila di atas kasur lipat. Wajahnya berseri-seri. Ia baru saja menelepon ibunya, menyampaikan kabar baik bahwa ia diterima magang di perusahaan besar.
"Ibu nggak perlu khawatir soal biaya obat lagi," kata Karla lembut di telepon, meski hatinya tahu gaji magang mungkin tidak akan cukup. Tapi setidaknya, ini awal yang bagus.
Setelah menutup telepon, Karla melipat baju-baju kerjanya yang sudah agak lusuh. Ia berencana besok akan membeli kemeja baru agar terlihat lebih profesional di hari pertama kerja.
Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar menderu di depan kos-kosan. Bukan suara motor biasa, melainkan dengungan mesin mobil mewah yang halus namun bertenaga.
Karla berjalan menuju jendela kamarnya yang kecil. Dari sana, ia bisa melihat sebuah mobil hitam mengkilap parkir di depan gang sempit itu. Seorang pria berseragam sopir turun, membuka pintu belakang, lalu melihat ke arah papan nama kos-kosan.
Sopir itu memegang sebuah kertas, lalu menunjuk ke arah kamar Karla.
Jantung Karla berdegup kencang.
'Jangan-jangan ini jemputan untuk orientasi besok?'
pikirnya naif. 'Katanya sih program khusus, mungkin memang dilayani antar-jemput.'
Beberapa menit kemudian, ada ketukan di pintu kamar kosnya.
"Nona Karla Anindya?" suara pria terdengar dari luar.
Karla membuka pintu. Di sana berdiri sopir tadi, bersama Ryan yang tadi pagi ia temui di ruangan 2305.
"Pak Ryan?" Karla terkejut. "Ada apa, Pak? Apakah ada dokumen yang kurang?"
Ryan tersenyum tipis, meski ada keringat dingin di pelipisnya. Ia sedang menjalankan perintah CEO-nya, dan ia tahu ini agak aneh. Tapi ia tidak bisa menolak.
"Tidak ada yang kurang, Nona Karla," kata Ryan santai, mencoba terdengar meyakinkan. "Ini bagian dari fasilitas program khusus. Anda akan diantar ke... asrama karyawan khusus untuk orientasi malam ini."
"Asrama?" Karla bingung. "Tapi saya nggak bawa baju banyak, Pak."
"Nggak perlu khawatir. Semua sudah disediakan di sana," jawab Ryan cepat. "Silakan ikut saya. Mobil sudah menunggu."
Karla ragu sejenak. Ini terdengar sangat mewah untuk ukuran anak magang. Tapi mengingat kekacauan di lobi pagi tadi dan adanya notaris, mungkin memang begini prosedur perusahaan konglomerat.
"Oke, Pak. Saya ambil tas dulu," kata Karla sambil meraih tas ranselnya yang sudah compang-camping.
Perjalanan menuju lokasi "asrama" itu memakan waktu sekitar empat puluh menit. Karla memperhatikan jalanan melalui kaca jendela mobil yang gelap. Semakin lama, mereka semakin masuk ke kawasan perumahan elite. Pohon-pohon besar menaungi jalan, pagar-pagar tinggi menjulang, dan keamanan yang ketat di setiap gerbang.
"Pak, ini kok ke daerah Menteng?" tanya Karla ragu. "Asrama karyawan di sini? Mahal banget."
Ryan tertawa kecil, agak gugup. "Ini... asrama khusus untuk level manajemen trainee, Nona. Jadi memang lokasinya strategis."
Karla mengangguk-angguk, meski masih penasaran. Akhirnya, mobil itu berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang besar. Di belakangnya, berdiri sebuah rumah modern bergaya minimalis dengan dua lantai. Lampu-lampu taman menyala hangat, memberikan kesan mewah namun dingin.
Sopir turun dan membukakan pintu untuk Karla.
"Silakan, Nona. Tuan rumah sudah menunggu di dalam," kata Ryan sambil membukakan pintu pagar.
Karla turun dari mobil, memeluk tas ranselnya erat-erat. Ia mendongak menatap rumah besar di depannya. Ini bukan asrama. Ini rumah pribadi. Sangat pribadi.
"Pak Ryan," panggil Karla, suaranya mulai bergetar. "Ini rumah siapa?"
Ryan tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat agar Karla masuk.
Karla melangkah ragu menuju pintu utama. Pintu itu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.
Di balik pintu, berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam yang sama seperti pagi tadi. Wajahnya dingin, matanya tajam, dan aura yang dikeluarkannya membuat udara di sekitar terasa menipis.
Adrian Nathaniel Wijaya.
Pria yang sekarang menatapnya seolah sedang menatap sebuah dokumen yang bermasalah.
"Selamat datang, Karla," suara Adrian berat, menggema di ruang foyer yang luas.
Karla mundur selangkah. Kakinya menabrak tasnya sendiri.
"Pak... Pak Adrian?" gagap Karla. "Kenapa saya dibawa ke rumah Bapak? Katanya ini asrama karyawan?"
Adrian tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju, mendekati Karla hingga jarak mereka hanya tinggal satu meter. Karla bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal dari pria itu.
"Asrama?" ulang Adrian, sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum yang tidak mencapai mata. "Siapa yang bilang kamu akan tinggal di asrama?"
Adrian mengangguk pada Ryan yang segera mundur dan menutup pintu utama di belakang mereka. Suara klik kunci terdengar nyaring di keheningan malam itu.
"Selamat datang di rumahmu yang baru," kata Adrian pelan. "Mulai malam ini, kamu tinggal di sini. Bersamaku."
Karla membeku. Matanya membelalak.
"Bersama... Bapak?"
Adrian meraih sesuatu dari meja samping, lalu melemparkannya pelan ke arah Karla. Karla menangkapnya dengan refleks.
Itu adalah sebuah map coklat.
Surat Nikah.
Karla menatap lembaran itu, lalu menatap Adrian, lalu menatap kertas kaku bertulis 'Surat Nikah' itu lagi. Tangannya gemetar hebat.
"Bacalah," perintah Adrian.
Karla membaca kertas kaku itu dengan jari-jari kaku. Di sana, terpampang jelas dua nama yang dicetak rapi.
Adrian Nathaniel Wijaya
Karla Anindya
Tanggal pernikahan: Hari ini.
Status: 'Menikah'
Dunia Karla seakan berhenti berputar. Lantai di bawah kakinya terasa miring. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Ini... ini salah," bisik Karla, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya nggak nikah. Saya cuma interview magang..."
Adrian menatapnya lekat-lekat. Tidak ada kemarahan di matanya kali ini, hanya ada kepasrahan yang dingin.
"Secara hukum, kamu sudah istri saya, Karla," kata Adrian tegas. "Dan mulai malam ini, kita akan membahas bagaimana cara menyelamatkan hidup kita berdua dari kesalahan ini."
Karla menatap pria di depannya. Pria yang baru ia kenal beberapa jam lalu. Pria yang sekarang menjadi suami sahnya.
Dan di luar, langit Jakarta akhirnya menurunkan hujan pertama malam itu, seolah ikut menangisi kekacauan yang baru saja dimulai.
***