bc

So, I Married the CEO?

book_age18+
87
IKUTI
1K
BACA
billionaire
contract marriage
family
fated
arranged marriage
heir/heiress
bxg
lighthearted
city
office/work place
childhood crush
wild
like
intro-logo
Uraian

Satu tanda tangan. Dua orang asing. Satu ikatan sah yang tak bisa dibatalkan.

Karla Anindya datang ke Wijaya Group untuk interview magang.

Karena situasi kacau dan dokumen tertukar, ia tanpa sadar menandatangani perjanjian pernikahan yang disiapkan untuk "calon istri kontrak" CEO Adrian Nathaniel Wijaya, CEO muda yang dingin, sedang dipaksa oleh dewan direksi dan keluarganya untuk segera menikah agar bisa meneruskan warisan perusahaan. Ia menolak, namun ternyata proses legal pernikahan sudah berjalan tanpa sepengetahuannya.

Ketika surat nikah keluar, nama mereka tertera jelas di sana.Status: SAH. Karla terjebak dalam pernikahan dengan pria yang tidak ia kenal sama sekali.

Adrian terikat dengan wanita yang ia kira adalah kandidat pilihan keluarganya.

Di tengah upaya menyembunyikan identitas masing-masing, konflik mulai muncul.

Tekanan keluarga, intrik bisnis, dan kecemburuan yang tak terbendung.

Ketika kebenaran terungkap, Karla harus memilih: Apakah ini cinta? Atau dia hanya pion dalam permainan bisnis Adrian?

"Kau pikir ini hanya kontrak? Bagiku... ini adalah cara takdir memilikimu selamanya."

Ikuti perjalanan 100 bab penuh air mata, tawa, dan cinta yang dimulai dari sebuah kesalahan.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1: Dokumen Yang Salah
POV Karla Lobi Wijaya Group hari ini kacau balau. Orang-orang berseragam hitam berlarian membawa kotak bunga. Ada karpet merah yang sedang digulung di sudut ruangan. Beberapa wanita dengan gaun malam tampak lalu-lalang dengan wajah tegang. "Aduh, hari apa sih ini?" gumamku sambil memeluk folder plastiku erat-erat. Jam menunjukkan pukul 08.50. Interview magangku dijadwalkan pukul 09.00. Tapi lobi ini seperti sedang persiapan pernikahan akbar, bukan kantor biasa. "Permisi, Mbak," sapaku pada seorang resepsionis yang tampak kewalahan. "Saya Karla Anindya. Ada janji interview dengan HRD di lantai 23." Resepsionis itu menatap layar komputernya, lalu menatapku sekilas. Matanya menyipit. "Karla Anindya? Untuk... program khusus?" tanyanya. "Iya? Program Magang Khusus," jawabku cepat. Resepsionis itu mengetik sesuatu, lalu mengangguk. "Silakan naik ke lantai 23. Ruang 2305. Bapak Ryan sudah menunggu." "Terima kasih!" Aku berlari kecil menuju lift. Hati berdebar. *Program Khusus* terdengar menjanjikan. Mudah-mudahan ini jalan untuk bisa membantu Ibu bayar tagihan rumah sakit. Ding. Lantai 23. Aku mencari ruang 2305. Pintunya terbuka sedikit. Aku mengetuk pelan. "Masuk," terdengar suara pria dari dalam. Aku masuk. Di dalam ruangan itu tidak ada meja interview biasa. Hanya ada sebuah meja kecil, dua kursi, dan seorang pria berkacamata yang tampak sangat stres. Di sudut ruangan, ada seorang wanita berseragam resmi, seperti notaris? "Wah, akhirnya datang juga," kata pria itu sambil mengelus dahinya. "Saya Ryan. Asisten Pak CEO." *Asisten CEO?* pikirku bingung. *Kenapa asisten CEO yang interview magang?* "I-Iya, Pak Ryan. Saya Karla." "Oke, Karla. Kita nggak punya banyak waktu. Situasi sedang... genting," kata Ryan sambil menyodorkan sebuah dokumen tebal. "Ini perjanjiannya. Baca sekilas, lalu tanda tangan di halaman terakhir." Aku melirik dokumen itu. Banyak pasal. Font kecil. Tapi karena ada orang berseragam notaris di sana, aku jadi merasa ini prosedur standar perusahaan besar untuk kerahasiaan. "Ini... kontrak magang, ya Pak?" tanyaku memastikan. Ryan menghela napas, tampak tidak sabar. "Intinya sama. Kamu terikat dengan perusahaan. Dan... dengan Pak CEO. Tanda tangan saja, Karla. Ini urgent." Urgent? Aku menelan ludah. Tidak ingin terlihat lambat atau banyak tanya, aku mengambil pulpen yang disodorkan. Halaman terakhir. Ada kolom bertuliskan 'PIHAK KEDUA' Aku menandatangani namaku dengan tangan sedikit gemetar. -Karla Anindya- "Selesai," kataku sambil menyerahkan balik. Ryan mengambil dokumen itu, lalu menyerahkannya pada wanita notaris tadi. Wanita itu membubuhkan cap resmi. "Selamat," kata Ryan tiba-tiba. Wajahnya lega, tapi ada senyum aneh di sana. "Selamat datang di keluarga Wijaya." "Hah? Keluarga?" aku terkekeh canggung. "Maksudnya... keluarga besar perusahaan, ya?" Ryan hanya tersenyum tipis. "Anda bisa pulang sekarang. Nanti akan dijemput. Proses sudah legal." "Di-jemput?" Aku semakin bingung. Tapi Ryan sudah berdiri, seolah mengusirku halus. "Ehm, oke. Terima kasih, Pak Ryan." Aku keluar ruangan dengan kepala penuh tanda tanya. Kenapa magang harus dijemput? Kenapa ada notaris? Ah, sudahlah. Namanya juga perusahaan konglomerat. Mungkin memang prosedurnya aneh. Yang penting, aku diterima. *** POV Adrian "Aku tidak akan menikah, Paman." Suara saya menggema di ruang direksi yang dingin. Di seberang meja, tiga orang pria tua yaitu para pemegang saham dan pamanku sendiri, menatapku dengan wajah tidak sabar. "Adrian," kata Paman Hendra, suara nya berat. "Syarat wasiat Ayahmu jelas. Kamu bisa menjabat sebagai CEO penuh hanya jika kamu sudah menikah sebelum ulang tahunmu yang ke-30." "Sisa waktu tiga bulan," sahutku dingin. "Aku bisa mengurus perusahaan tanpa istri. Kinerja saham naik 15% bulan lalu." "Ini bukan soal kinerja! Ini soal stabilitas!" bentak Paman Hendra. "Investor butuh kepastian. Pemimpin perusahaan butuh keluarga. Kamu pikir kami tidak tahu kamu masih single?" "Aku belum menemukan calon yang tepat." "Kami sudah menemukan kandidatnya untukmu," potong Paman Hendra. Dia mengangguk pada asisten di sudut ruangan. "Proses seleksi sudah selesai. Kandidat sudah dipilih. Dan sore ini... dokumen sudah diproses." Jantungku berdesir tidak enak. "Maksud Paman?" "Maksud saya," Paman Hendra tersenyum tipis, senyum yang membuatku ingin membalikkan meja, "Kandidat istri kontrak itu sudah menandatangani persetujuan. Secara hukum, proses pendaftaran sedang berjalan ke Catatan Sipil." Aku berdiri. Kursiku tergeser kasar hingga berbunyi decitan. "Apa?" suaraku rendah, berbahaya. "Kalian memilihkan istri untukku? Tanpa persetujuanku?" "Kami memberi pilihan. Menikah sekarang, atau posisi CEO dialihkan ke Damien." Aku mengepalkan tangan. Damien. Sepupuku yang serigala berbulu domba itu. Jika dia yang jadi CEO, perusahaan ini bisa hancur dalam setahun. "Kalian memerasku," geramku. "Kami memotivasi Anda, Tuan Muda," sahut Paman Hendra santai. "Dokumen sudah ditandatangani pihak wanita. Tinggal Anda membubuhkan tanda tangan basahnya nanti sore setelah rapat. Tapi secara sistem... Anda sudah 'terikat'." Aku merasa darah mendidih. Mereka tidak bisa melakukan ini. Ini abad 21. Mereka tidak bisa memaksaku menikah seperti barang dagangan. "Tunjukkan dokumen itu," perintahku. "Belum bisa. Pihak wanita meminta privasi. Tapi tenang saja, kami memilihkan yang... sederhana. Tidak akan merepotkan hidup Anda. Hanya nama di atas kertas." Aku menghela napas panjang, mencoba menahan amarah. "Baik," kataku akhirnya, suara saya datar. "Tapi jangan harap aku akan memainkan peran sebagai suami bahagia. Ini transaksi. Murni bisnis." "Bagus. Kalau begitu, selamat, Adrian. Anda sudah tunangan." Mereka keluar satu per satu, meninggalkan aku sendirian di ruang rapat yang tiba-tiba terasa sangat sempit. Aku berjalan menuju jendela, menatap kota Jakarta di bawah sana. Siapa wanita itu? Siapa yang mau menjual kebebasannya hanya untuk menjadi 'istri kontrak' CEO? Dan kenapa... ada perasaan tidak enak di dadaku? Seolah-olah ini bukan akhir dari masalah, tapi awal dari bencana yang lebih besar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.9K
bc

TERNODA

read
202.7K
bc

Kali kedua

read
222.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
16.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook