Bima Ardelio belum juga minta maaf. Pria itu terlalu bingung karena didiamkan oleh Shanum. “Aku mandi dulu.” Kali ini Bima Ardelio sengaja pamit. Ia belajar dari kesalahan yang sebelumnya. “Tetap enggak mau minta maaf nih orang, ... aku tinggal tidur kalau gitu! Eh tapi, kalau aku tinggal tidur, ... si Om diambil orang, enggak?” pikir Shanum tetap bersembunyi di balik selimut. Tatapan Bima Ardelio mengawasi sekitar. Ia membenarkan gamis bekas sang istri yang hanya disangkutkan di gagang pintu lemari pakaian. Ia merapikannya, menggantungnya menggunakan hanger. Begitu juga dengan hijab segi empat Shanum yang tak luput dari sidak beres-beresnya. Kemeja miliknya berikut celana yang ia pakai juga turut Bima Ardelio rapikan. Semuanya digantung di dalam lemari yang ia biarkan terbuka. Sebelum