Ketika Emma tiba di rumah sakit, ia langsung mencari di mana kamar Raven. Erik menyambut kedatangannya dengan berdiri dari duduknya. Emma bisa merasakan tatapan tak biasa dari asisten suaminya itu, tetapi ia tidak begitu peduli. Ia tak tahu bahwa Erik juga telah mengetahui rahasianya. "Gimana kondisi Raven?" tanya Emma tak sabar. "Orang tua beliau di dalam. Sebaiknya Anda duduk saja dulu dan menunggu giliran masuk," kata Erik memberi saran. Emma menggeleng pelan. Ia mendekati pintu kamar Raven lalu berjinjit untuk melihat Raven melalui celah kaca. Sayangnya, ia tak melihat apapun dari sana. Emma kembali mengusap pipinya yang basah. "Raven ... udah bangun?" tanya Emma pada Erik lagi. "Ya. Beliau hanya mengalami benturan ringan. Nggak ada yang serius, Nona." "Kamu yakin?" tanya Emma la