Setelah menerima telpon dari Fhelicia, Rayden tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Kelakuannya persis sekali seperti orang gila. Ya, ia memang sedang digilakan oleh cinta. Hatinya tentu berbunga-bunga, apalagi gadis incarannya itu pada akhirnya setuju menerima ajakannya untuk segera bertunangan dalam waktu dekat. Namun, beberapa saat berselang, Rayden juga kepikiran. Gara-gara Fheli berkata ingin bicara serius besok pagi, semalaman ia jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hatinya terasa sekali gelisah. Kepikiran sekaligus terbayang-bayang, sebenarnya apa yang akan gadis itu sampaikan serta bicarakan kepadanya. Maka, setelah sempat tidur beberapa jam saja, ketika bangung Rayden langsung bergegas. Membersihkan diri, kemudian menyantap sarapan dengan ringkas. Sambil menikmati roti sa