“Dan selamat, Pak. Dia hamil.” “Apa maksudnya itu?” suara Nathan terdengar kaku, hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Ia menatap dokter dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Dokter membuka mulut, namun sebelum sempat menjawab, Angel yang mulai sadar perlahan mengerjapkan mata. Ia duduk perlahan, masih lemah, memegangi kepalanya yang berdenyut. “Angel,” panggil Nathan cepat, suaranya terdengar tegang. Angel menatapnya, lalu menatap dokter. “Ada apa? Aku kenapa?” Dokter menarik napas pelan, lalu mengulang kalimatnya. “Anda hamil. Mungkin usia kehamilan masih sangat awal, tapi tanda-tandanya cukup jelas.” Angel membeku. “A… apa?” suaranya gemetar. “Hamil?” Nathan meliriknya, mencari jawaban dari wajah itu. Angel menggigit bibirnya, menatap lantai seolah mencari alasan logis untuk

