Tatapan mata Kanika yang penuh luka membuat hati Fabian terasa diremas. Pria itu berjongkok di hadapannya, tak peduli dengan noda debu yang mungkin menempel di celananya. Ada kelembutan yang tak biasa di sorot matanya, sama sekali tidak seperti Fabian yang tegas dan terkesan dingin. “Kanika, tenanglah.” Suaranya terdengar begitu pelan, berusaha tidak membuat Kanika terkejut lebih jauh. “Kamu ... kenapa di sini?” Kanika masih bergeming, air mata kembali mengalir di pipinya. Dia hanya menggeleng lemah, seolah tak ada kata yang bisa menjelaskan apa yang dia rasakan. Melihat keadaannya, hati Fabian semakin tidak karuan. Pria itu mengulurkan tangannya ragu, hendak menyentuh bahu Kanika, namun segera ditariknya kembali. Dia teringat batasan yang selama ini coba ia jaga. Akan tetapi, meli

