Kanika mengerjap, matanya membulat sempurna. Bukan Fabian seperti yang dia duga. Di hadapannya, berdiri Zidan, calon suaminya, dengan wajah bingung dan terkejut. “Tadi kamu bilang apa, Kanika? Om?” Kanika gelagapan. Wajahnya memerah. Ia berusaha mencari alasan yang masuk akal. “Ah? I-itu bukan … bukan apa-apa, kupikir yang suka pungli itu,” jawabnya sekenanya, berharap Zidan percaya. Zidan mengerutkan dahi, tampak bingung dengan alasan Kanika. “Pungli? Apartemen seaman ini masih ada pungli?” Deg. Seketika Kanika membeku. Dia baru menyadari betapa anehnya jawabannya. Namun, sudah terlanjur. Dia tidak bisa menarik kembali ucapannya. “Iya, aku juga bingung … sepertinya sistem keamanan di sini kurang baik. Nanti aku lapor, deh,” ujar Kanika mengangguk cepat. “Hmm, harus ditindak

