Tubuh Kanika membeku, dia bingung harus menjawab apa. Jantungnya berdebar kencang di balik gaun navy blue yang indah. Bahkan, dia menelan saliva susah payah, berusaha melepaskan genggaman tangan Fabian di tangannya. “Lepaskan,” pintanya kemudian, suaranya bergetar. Alih-alih melepaskan, Fabian justru kian mempererat genggamannya. “Berhubung kita bertemu di sini, ada baiknya langsung bicara saja ... kamu sulit sekali dihubungi. Padahal, niatku sangat baik sebenarnya.” Kanika membuang napas kasar, dia melayangkan tatapan tajam ke arah Fabian. “Bicara soal apa? Dan niat baik apa?” tanyanya, suaranya penuh amarah dan ketakutan. “Jika kamu ingin membahas masalah malam itu, aku tegaskan padamu, ada baiknya lupakan saja. Aku tidak akan menuntut tanggung jawab,” lanjut Kanika kemudian. Dan, p

