Makan malam berlalu dengan tenang, Alyan lebih banyak diam dan duduk kaku meski aku terus mengajaknya bicara. “Bagaimana rasanya? Enak?” dari ekspresi dan tak banyak komentar, Alyan yang menyuap tenang sebenarnya aku cukup yakin bila makanannya enak. Aku tetap bertanya untuk memastikan jawabannya langsung. Jika dia menyukainya, tentu aku akan memberi apresiasi pada diriku sendiri sudah memilihkan makanan yang cocok untuknya. Alyan berhenti memotong salmon di atas piringnya, satu alisnya naik. “Apa pendapatku dibutuhkan?” “Ya.” “Seolah kamu yang memasak hingga butuh pendapatku.” Ujarnya sarkasme. Aku mengerucutkan bibir, meletakan garpu dan pisau di atas piring dan menjeda untuk minum. “Memang bukan aku yang masak. Tapi, aku kan yang pilihkan makananmu. Kalau kamu suka, aku merasa

