“Kamu pulang tidak membawa makanan?” tegur Aric yang berdiri di ujung tangga. Summer mengekori. Begitu melihatku, dia langsung mendekat, aku berjongkok dan mengusapnya. “Tidak.” Aric mendesah, bahunya merosot. “Aku lapar.” “Di rumah ada yang bisa buatkan dirimu makanan meski Mom lagi tidak ada.” Bisa-bisanya dia mengeluh lapar padahal di rumah ada banyak pekerja, ada juru masak. “Aku akan mengadu pada Mommy dan Daddy kalau kamu tidak memerhatikan diriku selama mereka pergi!” Aric mengancam. Aku terkekeh, “Oke, Fine! Katakan kamu mau makan apa? Kita pesan!” mudah menebak jika dia memang tidak mau makan makanan rumah. Berbelit, segala mengancamku mau lapor ke Daddy dan Mommy. Senyumnya langsung terbit, dia mendapat apa yang diinginkan. Aric berjalan mendekatiku. Aku memberinya po

