“Fay—“ aku langsung tersentak dengan sentuhan di tanganku, menatap ada tangan Sean menyelimuti punggung tanganku. Menoleh, aku menemukan Sean menatapku lekat. “—Kamu melamun?” Aku segera menarik tanganku, Sean juga menarik tangannya. Senyum tak lepas dari wajahnya. “Kita sudah sampai.” “Di sini tempatnya?” tanyaku sambil tatapan mataku liar keluar jendela, menemukan sebuah Balai Puspa, gedung yang biasa disewakan untuk sebuah acara. Ada sekitar empat orang yang menunggu di depan. Dua orang lainnya kompak mendekat, siap membukakan pintu untuk kami. “Ya. Kita turun.” Aku mengangguk, melepas seatbelt dan memastikan wajah dan rambutku rapi sebelum turun. Acara yang kuhadiri tanpa persiapan, aku bahkan baru tahu tadi sepulang lari pagi masih belum mandi dan dipenuhi keringat. Ternyata

