Ponselku berdering di waktu yang tidak tepat, saat aku masih bersama Alyan. Aku mengambil ponsel dari dalam tas. Melihat nama Mommy menari-nari di layar ponsel. Alyan ternyata melihat juga. “Jawab. Jangan buat ibumu menunggu.” Katanya dan berbalik. Dia berjalan tanpa mau menjawab kalimat yang terlontar dari bibirku tadi mempertanyakan sikap menyebalkannya itu. Aku melangkah sambil menjawab panggilan dari Mommy. Meletakkan ponsel di telinga, aku melangkah mengikuti Alyan kembali ke rumah sakit. Tangan bebas lainnya memegang cup berisi Ice latte. Isinya aman, tutup yang rapat menyelamatkan isinya tidak tumpah dari guncangan tadi. “Princess, kamu di mana? Kenapa berisik suara kendaraan, kamu di jalan?” tebak Mommy setelah kami saling menyapa. “Fay sedang di luar, Mom.” Aku menahan bib

