“Kenapa kamu bawa Aric ke sini?” saat lengah, Aric sedang mencoba berada di atas ring, Alyan menarikku. Membawaku masuk ke sebuah ruangan dengan sebuah pintu di tengahnya ada kaca, aku tetap bisa memantau Aric. Aku menatap Alyan. “Aku berjanji akan mengajaknya ke sini bila ia bisa untuk tidak bilang ke orang tua kami tentang kamu.” Aku memilih jujur pada Alyan. Dia mundur setelah mendesakku. “Di banding kamu harus terus berbohong pada orang tuamu lebih baik kamu berhenti menemuiku, Fay.” Aku mematung dengar tanggapannya. “Hanya sementara, aku akan katakan pada mereka tetapi setelah kita bersama.” “Fay, kita tidak bisa bersama.” Bantah Alyan. Buat hatiku rasanya getir dan nyeri. “Kenapa tidak bisa?” aku menuntut, melangkah maju. Tanganku terulur menyeka keringat di pelipis Alyan.

