Syukurlah! Abbas menatap ke ruangan, “aku ingin pergi, kita bisa bicara nanti seperti yang kamu bilang. Tapi, Anna... aku sungguh penasaran juga merasa ada yang salah. Putuskan untuk kembali. Tadi aku sempat lihat pria yang bersama kamu keluar. Aku tidak menunda untuk bertemu kamu.” Aku membalas tatapan Abbas, kami masih berdiri di pintu. “Apa maksud kamu, ada yang salah?” aku sungguh tidak paham maksud kalimat Abbas bagian tersebut. Dia menghela napas “Maaf, sebelumnya aku tidak bermaksud berpikir buruk atau ikut campur kehidupan kamu, Anna. Hanya kamu terlihat tidak nyaman, sori kalau aku salah. Tapi, ekspresi wajah kamu tadi lebih bisa dibilang terkejut dengan tindakan pria yang mengaku sebagai suamimu.” Abbas, tepat. Sangat benar. Terlalu mudah untuknya tebak ekspresiku yang terte

