Aku menunggu sampai kami selesai makan, menunda pulang dan memesan dessert. “Abbas...” “Anna...” Kami saling beradu pandang dan tertawa begitu bersamaan saling mulai bicara. “Kamu dulu” kata Abbas. Aku mengangguk, menghela napas perlahan “aku sudah mengajukan resign.” Abbas mengernyit, tanpa berkedip. “Dua hari lalu, sudah disetujui. Aku akan kembali ke Indonesia.” “Anna, ini serius?” “Ya, Papaku sakit. Aku ingin ada bersamanya.” “Sakit?” “Aku pun baru tahu beberapa hari lalu, serangan jantung, sudah terpasang ring di jantungnya.” Beritahuku dengan mata berkaca-kaca, aku belum bicara lagi dengan Papa. Tidak kuat, untuk berbagai alasan termasuk perasaan campur-aduk. Aku menunduk, buru-buru mengusap air mata. Tak aku sangka Abbas berdiri, melangkah di dekatku dan mend

