Farah menutup tirai jendela perlahan setelah memastikan tidak ada siapa pun di luar. Cahaya pagi yang tadi masuk kini tergantikan oleh suasana kamar yang lebih tenang. Ia duduk di depan meja rias, menatap pantulan wajahnya sendiri. Di balik wajah Sarah yang kini harus ia pakai setiap hari, ada kegelisahan yang terus tumbuh. Insiden di meja makan tadi bukan hanya soal Amanda dan sikap kasarnya, tapi tentang fakta bahwa posisinya di rumah ini semakin disorot. Ia tidak lagi bisa sekadar bersembunyi di balik diam. Ia meraih sisir dan menyisir rambutnya dengan gerakan pelan. Setiap helai rambut yang jatuh rapi di bahunya seolah menjadi pengingat bahwa ia harus terus memainkan peran ini dengan sempurna. Tidak boleh ada celah. Tidak boleh ada keraguan yang terlihat. Farah menarik napas panjang,

