Malam semakin larut ketika Farah akhirnya memutuskan masuk ke kamar. Balkon ia tinggalkan dengan perasaan yang belum sepenuhnya tenang. Ponsel di tangannya kembali ia periksa, memastikan tidak ada pesan lanjutan dari nomor misterius tadi. Namun layar tetap gelap. Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya pelan. Rumah ini semakin terasa seperti papan catur, dan ia adalah bidak yang baru saja belajar bergerak. Ia berbaring tanpa langsung memejamkan mata. Pikirannya kembali pada Amanda—tatapan sinisnya, keberaniannya menantang, dan keyakinannya bahwa ia dilindungi penuh oleh Sabrina. Jika pesan itu benar, maka Amanda jelas tidak akan tinggal diam. Ia akan mencari cara lain, mungkin lebih licik, lebih tersembunyi. Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk

