Farah berdiri mematung beberapa detik setelah wanita itu pergi. Udara di belakang rumah terasa lebih dingin dari biasanya, meski matahari sudah naik cukup tinggi. Kalimat terakhir itu terus terngiang di kepalanya. Amanda tidak akan melakukannya sendiri. Artinya, ada orang lain di dalam rumah ini yang siap bekerja sama. Atau lebih buruk, ada pihak dari luar yang ikut terlibat. Ia menguatkan diri, lalu kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Wajahnya kembali netral, langkahnya terukur. Tidak boleh ada satu pun pelayan yang melihat kegelisahannya. Begitu sampai di koridor utama, ia berpapasan dengan Sabrina yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dengan didorong kursi roda. “Ke mana saja kau?” tanya Sabrina tanpa basa-basi. “Ke perpustakaan,” jawab Farah tenang. “Aku ingin mencari buku.”

